IDEALITAS KEPEMIMPINAN KAUM MUDA
(Sebuah catatan kecil jelang Musprov DPD KNPI Sulsel 2013 : “Antara Ambisi dan Tuntutan Regulasi”)
By. Elly Oschar Ketua Umum Pw IPM SulSel
Perhelatan Akbar DPD KNPI SULAWESI SELATAN dalam wujud “Musyawarah Propinsi DPD KNPI SULSEL“ sebentar lagi terlakasana. Tentunya kita berharap ajang ini menjadi momentum bersama dalam mengevaluasi apa yang telah dikerjakan oleh Pemuda dalam wadah KNPI selaku fasilitator OKP-OKP di tingkat Provinsi, disamping sebagai upaya untuk mempertegas kembali eksistensi Pemuda seperti disebutkan oleh Jose’ Ortega G. Yasset, bahwa pemuda adalah the agent of change, yang di bebani harapan-harapan dan menjadi pioneer dalam penyelesaian permasalahan, sehingga begitu besar ekspektasi kaum muda dalam mempersiapkan diri menyongsong masa depan yang mapan dan bermartabat untuk bangsa dan negara
Sejarah telah membuktikan, bahwa dalam setiap perubahan sosial dan politik pada hampir seluruh negara di belahan bumi, pemuda selalu dicatat sebagai pelaku yang memiliki peran strategis yang memungkinkan untuk ikut menentukan perubahan arah dan kebijakan pembangunan. Pemuda adalah suatu umur yang memiliki kehebatan tersendiri, yang menurut DR. Yusuf Qardhawi ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas. Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan semangat yang enerjik bila dibanding dengan anak kecil atau orang jompo. Pemuda mempunyai potensi yang luar biasa, bisa dikatakan seperti dinamit atau TNT bila diledakan. Akan tetapi jika tidak dilakukan pembinaan maka yang terjadi adalah sebaliknya. Potensinya tak tergali, semangatnya melemah atau yang lebih buruk lagi ia menggunakan potensinya untuk hal-hal yang tidak baik misalnya tawuran dsb. Sekali lagi , pemuda adalah usia dan sosok yang hebat meski tidak semua pemuda adalah hebat.
M. Masad Masrur, (Intelektual dan Kepemimpinan Kaum Muda, 2007), menyebutkan ada tiga karakteristik kepemimpinan dan intelektual kaum muda. Pertama, kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif, kritis, dan mau tampil. Tipe pemuda itu merupakan kaum muda yang paripurna. Kedua, kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif, kritis, tapi tidak mau tampil. Men of behind, yaitu jenis kaum muda dengan kualitas baik. Ketiga, tipe kaum muda yang tidak punya ide-gagasan, tidak kreatif, tidak kritis, dan tidak mau tampil. Jenis kaum muda itu pasif dan cenderung menjadi "benalu" dalam setiap aktivitas yang melingkari kaum muda. Disinilah tumpuan harapan terhadap potensi kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif & kritis mau tampil ke garda terdepan dan mau berbuat serta mengabarkan kepada kita bahwa inilah saya Pemuda Indonesia. Dari latar belakang apapun, tanpa memandang suku, ras dan agama kalau ia memenuhi kretiria tersebut sebagai pemuda paripurna patut kita apresiasi pada Musprov DPD KNPI Sulsel mendatang sebagai representasi yang akan mengartikulasikan kepentingan pemuda dan bangsa di masa mendatang.
Sudah bisa dibayangkan seperti apa tema sentral yang coba diusung ketika rencana Musprov DPD KNPI Sulsel ini diadakan bersamaan tepat dengan momentum peringatan hari sumpah pemuda 28 Oktober 2013 mendatang. Merefleksi pada tahun 1928, kaum muda mengguncang sejarah dengan mendeklarasikan Sumpah Pemuda, sebuah manifesto yang heroik, dimana seluruh organisasi pemuda se- nusantara berkumpul dan mengikrarkan tiga sumpah yang sekarang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Harapan akan tumbuhnya spirit sumpah pemuda tetap berapi-api dalam tubuh pemuda-pemuda daerah Sulawesi Selatan tidak sekedar manis pada puncak teoritis. Hal ini penting mengingat ada utang sejarah yang belum dituntaskan oleh generasi saat ini dari generasi terdahulu.
Namun sebuah fenomena baru yang muncul pun tak bisa dipungkiri, bahwa Kebanyakan dari kita masih belum bisa sepenuhnya mempercayakan kepemimpinan kepada kaum muda dengan standar usia antara 16 – 30 tahun, sehingga terasa sekali kondisi KNPI sekarang ini tidak lagi menjadi rumah yang baik bagi anak muda dengan rentang usia tersebut karena orang-orang yang sudah udzur pun enggan meninggalkan KNPI, faktornya bukan karena semangat berkontribusi bagi bangsa akan tetapi karena merasa nyaman dengan prestise dan fasilitas mewah. Kecenderungan untuk menjadikan organisasi yang mempertarungkan kepentingan politik tertentu pun aromanya lebih dominan dan masih terasa kuat. Musprov DPD KNPI terkesan sebagai sebuah perhelatan dan perebutan kekuasaan untuk melanggengkan penguasa saat ini. Mind Stream pemuda cenderung dicekoki oleh pemikiran yang sifatnya opportunis dan pragmatis dengan alasan tingkat usia yang dinilai masih labil. Apalagi sistem demokrasi kita pada setiap suksesi kepemimpinan dibeberapa level momentum pemilihan masih cenderung bersifat transaksional. Artinya, siapa dapat apa, dan berapa.
Kita tetap berharap kepada tim seleksi calon ketua atau pengurus DPD KNPI SULSEL ke depan di samping mempertaruhkan komitment dan integritasnya dalam proses pemilihan calon ketua dan pengurus DPD KNPI periode mendatang bekerja secara independen yang terbebas dari intervensi manapun “kecuali intervensi dari langit yang merupakan Hidayah atau petunjuk” agar betul-betul selektif dan obyektif dalam menilai, melihat, memperhatikan serta konsisten terhadap regulasi yang ada khususnya pada UU Kepemudaan No. 40 tahun 2009 yang di dalamnya telah ditegaskan bahwa organisasi kepemudaan adalah yang berusia 16 – 30 tahun.
Mengutip pernyataan Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora RI Dr. Alfitra Salaam pada pembukaan KONPIWIL IPM KE XIX Di Kota Padang Sumatera Barat 28 September 2013 lalu bahwa UU Kepemudaan ini akan diberlakukan pada tanggal 28 Oktober 2013 nanti, saat itu lanjut beliau sembari menegaskan, bahwa OKP yang tidak bisa memenuhi atau menyusaikan diri terhadap aturan tersebut maka otomastis OKP itu akan berubah menjadi ORMAS. Artinya pembinaan OKP akan berpindah ke Kementrian Dalam Negeri karena ORMAS di bawah garis pembinaan Kemendagri sedangkan OKP oleh Kemenpora.
Kita bisa saja sepakat bahwa Seleksi dan suksesi Kepemimpinan DPD KNPI adalah ihwal membangun kepemimpinan kaum muda yang berwibawah, berpengalaman, matang, dan lebih baik ke depan sebagai sebuah potret ideal, akan tetapi hal itu bukan berati mengabaikan regulasi atau aturan yang ada. Sebuah tantangan baru ketika kita diperhadapkan pada pilihan antara ambisi atau menunaikan tuntutan regulasi. Namun Lagi-lagi ini bukan hanya pada soal UU Kepemudaan, tetapi lebih kepada sebuah proses Regenerasi di tubuh KNPI itu sendiri. Bukankah Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya?
Semoga dengan momentum hari sumpah pemuda kita buktikan kalau semangat sumpah pemuda itu masih ada, dengan cara mewujudkan konsistensi kita terhadap UU Kepemudaan. Serahkan KNPI itu kepada kaum Muda bukan kaum tua. Alangkah bijaknya jika yang merasa sudah tua mau dan ikhlas mengakui –meski cuma sedikit- potensi kaum muda yang lebih enerjik, karena persoalan potensi dan kompetensi hanya persoalan kesempatan saja. Dan justeru sebaliknya, Kalaulah hal ini tetap tidak dipatuhi lalu kepada siapa lagi kita akan berharap untuk perubahan?? Maka dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa lebih baik KNPI dibubarkan saja karena KNPI bukan lagi OKP melainkan telah berubah menjadi ORMAS. Potret idealitas kepemimpinan kaum muda di atas singgasana KNPI hanyalah mimpi yang tergantung kaku di bawah bayang-bayang generasi tua yang egois dan kepala batu.
Rabu, 09 Oktober 2013
IDEALITAS KEPEMIMPINAN KAUM MUDA (Sebuah catatan kecil: “Antara Ambisi dan Tuntutan Regulasi”)
IDEALITAS KEPEMIMPINAN KAUM MUDA
(Sebuah catatan kecil jelang Musprov DPD KNPI Sulsel 2013 : “Antara Ambisi dan Tuntutan Regulasi”)
By. Elly Oschar Ketua Umum Pw IPM SulSel
Perhelatan Akbar DPD KNPI SULAWESI SELATAN dalam wujud “Musyawarah Propinsi DPD KNPI SULSEL“ sebentar lagi terlakasana. Tentunya kita berharap ajang ini menjadi momentum bersama dalam mengevaluasi apa yang telah dikerjakan oleh Pemuda dalam wadah KNPI selaku fasilitator OKP-OKP di tingkat Provinsi, disamping sebagai upaya untuk mempertegas kembali eksistensi Pemuda seperti disebutkan oleh Jose’ Ortega G. Yasset, bahwa pemuda adalah the agent of change, yang di bebani harapan-harapan dan menjadi pioneer dalam penyelesaian permasalahan, sehingga begitu besar ekspektasi kaum muda dalam mempersiapkan diri menyongsong masa depan yang mapan dan bermartabat untuk bangsa dan negara
Sejarah telah membuktikan, bahwa dalam setiap perubahan sosial dan politik pada hampir seluruh negara di belahan bumi, pemuda selalu dicatat sebagai pelaku yang memiliki peran strategis yang memungkinkan untuk ikut menentukan perubahan arah dan kebijakan pembangunan. Pemuda adalah suatu umur yang memiliki kehebatan tersendiri, yang menurut DR. Yusuf Qardhawi ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas. Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan semangat yang enerjik bila dibanding dengan anak kecil atau orang jompo. Pemuda mempunyai potensi yang luar biasa, bisa dikatakan seperti dinamit atau TNT bila diledakan. Akan tetapi jika tidak dilakukan pembinaan maka yang terjadi adalah sebaliknya. Potensinya tak tergali, semangatnya melemah atau yang lebih buruk lagi ia menggunakan potensinya untuk hal-hal yang tidak baik misalnya tawuran dsb. Sekali lagi , pemuda adalah usia dan sosok yang hebat meski tidak semua pemuda adalah hebat.
M. Masad Masrur, (Intelektual dan Kepemimpinan Kaum Muda, 2007), menyebutkan ada tiga karakteristik kepemimpinan dan intelektual kaum muda. Pertama, kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif, kritis, dan mau tampil. Tipe pemuda itu merupakan kaum muda yang paripurna. Kedua, kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif, kritis, tapi tidak mau tampil. Men of behind, yaitu jenis kaum muda dengan kualitas baik. Ketiga, tipe kaum muda yang tidak punya ide-gagasan, tidak kreatif, tidak kritis, dan tidak mau tampil. Jenis kaum muda itu pasif dan cenderung menjadi "benalu" dalam setiap aktivitas yang melingkari kaum muda. Disinilah tumpuan harapan terhadap potensi kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif & kritis mau tampil ke garda terdepan dan mau berbuat serta mengabarkan kepada kita bahwa inilah saya Pemuda Indonesia. Dari latar belakang apapun, tanpa memandang suku, ras dan agama kalau ia memenuhi kretiria tersebut sebagai pemuda paripurna patut kita apresiasi pada Musprov DPD KNPI Sulsel mendatang sebagai representasi yang akan mengartikulasikan kepentingan pemuda dan bangsa di masa mendatang.
Sudah bisa dibayangkan seperti apa tema sentral yang coba diusung ketika rencana Musprov DPD KNPI Sulsel ini diadakan bersamaan tepat dengan momentum peringatan hari sumpah pemuda 28 Oktober 2013 mendatang. Merefleksi pada tahun 1928, kaum muda mengguncang sejarah dengan mendeklarasikan Sumpah Pemuda, sebuah manifesto yang heroik, dimana seluruh organisasi pemuda se- nusantara berkumpul dan mengikrarkan tiga sumpah yang sekarang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Harapan akan tumbuhnya spirit sumpah pemuda tetap berapi-api dalam tubuh pemuda-pemuda daerah Sulawesi Selatan tidak sekedar manis pada puncak teoritis. Hal ini penting mengingat ada utang sejarah yang belum dituntaskan oleh generasi saat ini dari generasi terdahulu.
Namun sebuah fenomena baru yang muncul pun tak bisa dipungkiri, bahwa Kebanyakan dari kita masih belum bisa sepenuhnya mempercayakan kepemimpinan kepada kaum muda dengan standar usia antara 16 – 30 tahun, sehingga terasa sekali kondisi KNPI sekarang ini tidak lagi menjadi rumah yang baik bagi anak muda dengan rentang usia tersebut karena orang-orang yang sudah udzur pun enggan meninggalkan KNPI, faktornya bukan karena semangat berkontribusi bagi bangsa akan tetapi karena merasa nyaman dengan prestise dan fasilitas mewah. Kecenderungan untuk menjadikan organisasi yang mempertarungkan kepentingan politik tertentu pun aromanya lebih dominan dan masih terasa kuat. Musprov DPD KNPI terkesan sebagai sebuah perhelatan dan perebutan kekuasaan untuk melanggengkan penguasa saat ini. Mind Stream pemuda cenderung dicekoki oleh pemikiran yang sifatnya opportunis dan pragmatis dengan alasan tingkat usia yang dinilai masih labil. Apalagi sistem demokrasi kita pada setiap suksesi kepemimpinan dibeberapa level momentum pemilihan masih cenderung bersifat transaksional. Artinya, siapa dapat apa, dan berapa.
Kita tetap berharap kepada tim seleksi calon ketua atau pengurus DPD KNPI SULSEL ke depan di samping mempertaruhkan komitment dan integritasnya dalam proses pemilihan calon ketua dan pengurus DPD KNPI periode mendatang bekerja secara independen yang terbebas dari intervensi manapun “kecuali intervensi dari langit yang merupakan Hidayah atau petunjuk” agar betul-betul selektif dan obyektif dalam menilai, melihat, memperhatikan serta konsisten terhadap regulasi yang ada khususnya pada UU Kepemudaan No. 40 tahun 2009 yang di dalamnya telah ditegaskan bahwa organisasi kepemudaan adalah yang berusia 16 – 30 tahun.
Mengutip pernyataan Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora RI Dr. Alfitra Salaam pada pembukaan KONPIWIL IPM KE XIX Di Kota Padang Sumatera Barat 28 September 2013 lalu bahwa UU Kepemudaan ini akan diberlakukan pada tanggal 28 Oktober 2013 nanti, saat itu lanjut beliau sembari menegaskan, bahwa OKP yang tidak bisa memenuhi atau menyusaikan diri terhadap aturan tersebut maka otomastis OKP itu akan berubah menjadi ORMAS. Artinya pembinaan OKP akan berpindah ke Kementrian Dalam Negeri karena ORMAS di bawah garis pembinaan Kemendagri sedangkan OKP oleh Kemenpora.
Kita bisa saja sepakat bahwa Seleksi dan suksesi Kepemimpinan DPD KNPI adalah ihwal membangun kepemimpinan kaum muda yang berwibawah, berpengalaman, matang, dan lebih baik ke depan sebagai sebuah potret ideal, akan tetapi hal itu bukan berati mengabaikan regulasi atau aturan yang ada. Sebuah tantangan baru ketika kita diperhadapkan pada pilihan antara ambisi atau menunaikan tuntutan regulasi. Namun Lagi-lagi ini bukan hanya pada soal UU Kepemudaan, tetapi lebih kepada sebuah proses Regenerasi di tubuh KNPI itu sendiri. Bukankah Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya?
Semoga dengan momentum hari sumpah pemuda kita buktikan kalau semangat sumpah pemuda itu masih ada, dengan cara mewujudkan konsistensi kita terhadap UU Kepemudaan. Serahkan KNPI itu kepada kaum Muda bukan kaum tua. Alangkah bijaknya jika yang merasa sudah tua mau dan ikhlas mengakui –meski cuma sedikit- potensi kaum muda yang lebih enerjik, karena persoalan potensi dan kompetensi hanya persoalan kesempatan saja. Dan justeru sebaliknya, Kalaulah hal ini tetap tidak dipatuhi lalu kepada siapa lagi kita akan berharap untuk perubahan?? Maka dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa lebih baik KNPI dibubarkan saja karena KNPI bukan lagi OKP melainkan telah berubah menjadi ORMAS. Potret idealitas kepemimpinan kaum muda di atas singgasana KNPI hanyalah mimpi yang tergantung kaku di bawah bayang-bayang generasi tua yang egois dan kepala batu.
Senin, 07 Oktober 2013
Negeri Sentosa, Tak Tersorot Kamera
salah satu pemandangan di Pulau Sembilan, Sinjai sumber: dok.pribadi
Sebelum masuk Sinjai, saya ditantang taruhan oleh Mail, supir rental yang menemani saya dari Makassar. “Abang boleh cari jalan jelek di Sinjai, bahkan di kampung-kampung sekali pun. Atau coba cari pengendara motor yang keluar rumah tanpa helm, walau cuma ke warung terdekat. Kalau Abang ketemu, boleh potong honor saya setengah” tantangnya.
Awalnya saya anggap itu angin lalu saja, namun Mail semangat sekali berpromosi. Di sepanjang perjalanan dia bercerita perkembangan Sinjai di bawah kepemimpinan Rudiyanto Asapa, Bupati dua periode yang saat ini juga maju sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan.
Masuk Sinjai menjelang maghrib, saya menginap di Hotel Sahid Sinjai, sebelah kediaman resmi Bupati. Target pertama saya adalah menikmati satu-satunya kehidupan malam di Sinjai. Kehidupan malam yang sangat sehat. Sebuah perputaran ekonomi yang mensejahterakan nelayan maupun warga secara keseluruhan, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sinjai.
Suasana TPI Sinjai di pagi hari (sumber: dok pribadi)
Pusat pelelangan ikan Sinjai mulai ramai sekitar pukul 19.30. Ratusan kapal penangkap ikan parkir dan berbaris rapi di pinggir pelelangan. Parkir dengan retribusi resmi yang menguntungkan daerah. Nelayannya bukan hanya dari Sinjai, nelayan dari Bantaeng, Bulukumba, bahkan dari Makassar lebih suka parkir dan menurunkan ikan di pusat pelelangan ikan ini. Sebab manajemennya transparan dan rapi. Taka ada tengkulak yang memonopoli harga.
Ikan diturunkan dan langsung disambut oleh para pedagang. Masyarakat lalu-lalang bertransaksi baik membeli ikan partai besar maupun eceran untuk kebutuhan sehari-hari. Ini pasar yang hampir sempurna, tidak ada cukong atau tengkulak yang bisa mengintervensi harga ikan. Nelayan, penjual, dan pembeli sama-sama diuntungkan. Jika ikan tidak habis, dinaikkan lagi ke peti pendingin yang ada di kapal untuk dijual lagi pada malam berikutnya.
Dengan uang lima puluh ribu, anda bukan hanya dapat 3-4 ekor ikan, tapi seperti meraup tauge. Bagi yang ingin segera menikmati ikan segar, di pintu masuk pelelangan terdapat banyak warung yang menyediakan pembakaran ikan. Inilah satu-satunya kehidupan malam di Sinjai.
Pulang dari pelelangan saya mampir di sebuah toko serba ada untuk membeli perlengkapan mandi dan sikat gigi. Jangan harap anda akan menemukan waralaba semacam Alfamart atau Indomaret di tempat ini. Bupati Sinjai, hanya mengijinkan waralaba masuk ke daerahnya jika bersedia menampung produk industry rumahan warga dengan kuota tertentu. Satu hal yang sepertinya berat dipenuhi oleh perusahaan waralaba. Namun bagi sang kepala daerah, itu bentuk perlindungan terhadap sektor ekonomi kerakyatan agar tidak digilas pasar-pasar modern.
Keesokan pagi saya bersiap-siap berkeliling ke pelosok Sinjai. melihat langsung hasil kepemimpinan Rudiyanto Asapa yang disanjung-sanjung warga Sinjai tersebut.
Saya mulai dengan menikmati pemukiman di pusat kota. Jalan-jalan yang mulus, rapi, serta pohon rindang terbentang di sepanjang jalan. Lalu saya lanjutkan perjalanan ke Sinjai Utara. Lagi-lagi Mail mengingatkan saya soal tantangannya. “Nanti coba cari jalan jelek ya bang,” tantangnya sembari senyum-senyum.
Saya tidak tertarik mencari jalan jelek tetapi sibuk memperhatikan motor-motor yang berseliweran. Penampilan motor-motor dan pengendaranya rata-rata sama, konservatif. Hampir tidak ada modifikasi. Motor harus dengan dua spion pabrikan, tanpa knalpot yang bikin berisik, serta pengedara yang lengkap dengan helm standar SNI. Konon tak ada kawasan khusus tertib lalu lintas di sini. Seluruh jalan adalah kawasan tertib lalu lintas. Sebab, polisi bisa melakukan tilang di jalan-jalan kampung sekalipun. Nama Kasatlantas Sinjai, H. Eddy, adalah nama terpopuler kedua setelah sang Bupati.
Saya berhenti di Bukit Gojeng. Ini awalnya adalah tempat makam purbakala. Namun fosil-fosilnya sudah dipindahkan ke dalam museum. Lokasi situs purbakala ini sendiri diubah menjadi taman kota yang sangat asri dan indah. Sekelas dengan resort-resort super mahal di pulau jawa. Ini merupakan ruang publik tempat muda-mudi menghabiskan waktu, terutama di akhir pekan. Dan yang bikin saya kaget, petugas penjaga taman ini memberitahu saya, password free wifi yang bisa dinikmati di Bukit Gojeng. Masukkan saja password digojengku, anda bisa berselancar di internet sambil menikmati nuansa resort berkelas yang sangat asri.
Kota Sinjai dilihat dari bukit gojeng
himbauan menjaga dari pemerintah daerah (sumber: dok pribadi)
keasrian bukit gojeng seperti dikelola swasta, bukan pemerintah (sumber: dok pribadi)
Dari Bukit gojeng, saya menuju dataran rendah. Ada deretan pulau-pulau yang menarik perhatian saya ketika melayangkan pandangan dari puncak bukit gojeng. Menurut warga setempat, namanya Pulau Sembilan. Ada sembilan pulau yang terpisah dari daratan utama Kabupaten Sinjai.
Saya menuju pelabuhan untuk mendapatkan speed ke Pulau Sembilan. Tidak ada tujuan khusus, hanya ingin tahu kondisi pulau-pulau yang terpisah dari daratan utama. Saya menuju pulau yang paling ramai, dan juga merupakan Pusat kecamatan Pulau Sembilan, namaya Pulau Kambuno.
Perkampungan nelayan di pulau Kambuno (foto: dok. pribadi)
Pulau ini dihuni oleh para nelayan. Tapi jangan bayangkan sebuah kampung nelayan yang berantakan dan kumuh. Ini jauh di luar perkiraan. Yang terlihat justru sebuah pemukiman yang sangat rapi dan bersih. Rumah-rumah panggung berjejer rapi dan gang-gang yang bersih. Hampir tidak ada rumah yang jelek, begitu juga perahu-perahu mereka yang bersandar di pinggir pulau. Persis di tengah-tengah pulau terdapat sebuah ruang publik berupa lapangan yang multifungsi. Jika diptret dari udara, akan mirip seperti stadion di tengah pulau, dikelilingi oleh rumah-rumah panggung dan tebing. Ini contoh kearifan lokal yang tidak tunduk pada keserakahan.
Suasana kampung yang asri dan bersih tidak mencerminkan perkampungan nelayan yang biasa dianggap amis dan kotor. (foto. dok pribadi)
Dulu pulau ini gelap gulita. Tidak ada listrik. Namun setelah dipimpin oleh Rudiyanto Asapa, Kambuno sudah dialiri listrik. Mekipun masih terbatas pada malam hari, namun membuat kemajuan dalam banyak hal, terutama pendidikan. Anak-anak bisa melajar dengan baik. Kehidupan pulau juga lebih semarak, dan sebagian di antara mereka justru bisa berselancar di internet. Ternyata pulau ini juga tersedia fasilitas Free Wifi yang dipancarkan dari kantor kecamatan.
Saya telusuri semua sisi pulau. Wajah-wajah cerah penghuni pulau, terutama anak-anak menghiasi setiap langkah saya menyisir pulau. Seorang anak mengajak saya melihat bangunan SMP tempat dia bersekolah. Tempatnya ada di puncak tertinggi pulau kambuno. Katanya pemandangannya sangat indah dan tak akan bisa dilupakan. Ah, saya pikir itu hanya hiperbola saja.
Saya susuri jalan setapak menanjak yang sudah dibeton. Di kiri kanan terdapat hamparan hutan kaktus seperti di gurun pasir. Sungguh nuansa yang sangat berbeda ketika sadar bahwa ini masih di pulau tropis. Di tengah-tengah hutan kaktus, terdapat sebuah balai nikah, di puncak tebing dan menghadap ke laut. Sejenak saya layangkan pandangan. Mulut ternganga dan takjub. Hamparan laut bening dengan warna kehijauan membentang di hadapan mata. Bisa dibayangkan betapa romantisnya jika pernikahan digelar di balai nikah ini. Besarnya tidak seberapa, tapi pemandangannya akan membuat moment pernikahan sebagai kenangan yang sangat berkesan.
Pemandangan dari balai nikah pulau sembilan (foto. dok pribadi)
Tidak jauh dari Balai Nikah itu, berdiri megah sebuah SMP negeri. Klaim anak kecil tadi ternyata bukan hiperbola. Pemandangan dari ruang guru maupun ruang belajar SMP ini setara dengan resort-resort mewah di Bali. Pantai pasir yang sempit, pohon kelapa yang tidak terlalu banyak, dan hamparan laut bening berwarna kehijauan. Saya tidak tahu apakah pemandangan ini akan membuat semangat belajar bertambah atau malah membuat ngantuk.
Namun, memang harus diakui bahwa 100 persen anak-anak di sinjai sudah menempuh pendidikan dari SD sampai SMA, dan itu gratis, baik di sekolah negeri mapun swasta. Bupati Sinjai Rudiyanto Asapa sudah menerapkan kebijakan ini sejak tahun 2003. Kalau mau jujur, mungkin dia pelopor pendidikan gratis di Indonesia. Seorang Bupati yang pernah dilaporkan warganya ke polisi sebagai penculik anak, karena membawa anak-anak yang bekerja di sawah ke sekolah meski mereka tak punya seragam. Hanya sayang, tidak ada kamera wartawan Jakarta yang mampir di sini.
SMP di pulau sembilan (foto: dokpribadi)
Menjelang sore saya kembali ke daratan Sinjai. Bersiap-siap kembali ke Makassar. Rasa tidak puas memenuhi dada. Sebab, selalu ada kejutan di setiap pelosok Sinjai. Dan itu inspirasi untuk membuat Indonesia lebih baik. Tapi sayang, pekerjaan terlalu banyak menumpuk di Makassar dan Jakarta. Suatu saat, saya pasti kembali menyusuri sisi lain daerah ini.
Sinjai memang bukan daerah ternama. Bahkan jarang ditulis media. Namun bagi yang hadir dan menikmati langsung akan segera paham bahwa ini seperti sebuah negeri yang diperintah raja bijak. Kebijaksanaan yang melahirkan ketenangan dan kesejahteraan bagi warganya
Minggu, 06 Oktober 2013
Antologi Cerpen : “Semburat Luka La Galigo” Mr. Dian Al-Pomala’a
ATAS SEBUAH PERTANYAAN
SURAT PASIEN BANDEL By: Dian Al-Pomalaa
DIPENGHUJUNG BULAN SEPTEMBER
Minggu, 09 Juni 2013
Jumat, 10 Mei 2013
IPM Tetap Tolak UN
IPM SulSel Tolak Pelaksanaan UN April 14th, 2011 by Baso Arfian pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Selatan menolak pelaksanaan Ujian Nasional dan meminta pemerintah segera melaksanakan putusan Mahkama Agung terkait peninjauan kembali Ujian Nasional (UN) dan sistem pendidikan nasional. IPM SulSel saat berunjuk rasa di gedung DPRD Sulawesi Selatan di Makassar, Kamis (14/04), menyatakan pemerintah sebaiknya fokus dan berkonsentrasi saja pada pembenahan sarana dan prasarana pendidikan di seluruh Indonesia secara merata. Selain itu, putusan MA yang dikeluarkan 14 September 2009 sifatnya mengikat. Sehingga tidak ada alasan bagi otoritas pendidikan untuk tidak segera melaksanakannya. Koordinator Posko Pengaduan UN IPM Sulsel Elly Oschar, mengatakan putusan MA tersebut menyatakan pemerintah lalai dalam memberikan pemenuhan dan perlindungan HAM terhadap warganya yang menjadi korban UN. Sehingga pemerintah harus segera menunjukkan sikap respon untuk menindak lanjuti persoalan yang terus mengancam kualitas dunia pendidikan saat ini. “Dalam putusan, juga jelas perintah pengadilan agar pemerintah meninjau kembali Sistem Pendidikan Nasional. Karena itu pemerintah sebagai tergugat diperintahkan untuk meningkatkan kualitas guru, sarana sekolah serta akses lengkap ke seluruh Indonesia sebelum mengeluarkan kebijakan UN lebih lanjut”kata Elly Oschar Ditegaskan, putusan MA juga mewajibkan pemerintah mengambil langkah-langkah kongkrit untuk mengatasi gangguan mental peserta didik dalam usia anak akibat penyelenggaraan UN, dengan menyediakan pendamping psikologi bagi pelajar usai ujian. Elly menjelaskan, UN merupakan sistem ujian berstandar nasional. Namun yang menjadi masalah, tidak semua daerah memenuhi delapan faktor standar nasional. Seperti, standar kompetensi kelulusan, standar proses dan standar pembiayaan pendidikan. Menanggapi aspirasi pelajar tersebut, Anggota DPRD Sulsel Muhtar Tompo didampingi Yosafat Tandilinting mengatakan, memahami dengan pemikiran para pelajar. Ia berjanji akan meneruskan aspirasi IPM tersebut kepimpinan dewan untuk selanjutnya dibahas dalam agenda rapat komisi. “Kami menerima aspirasi teman-teman, dan sesuai mekanisme penerimaan aspirasi kami akan melanjutkan ke pimpinan dewan”kata Muktar Tompo. (bat)
IPM Tolak UN
Pelajar Muhammadiyah Sulsel Tolak UN Oleh: Suriani Ilustrasi - inilah.com INILAH.COM, Makassar - Ujian Nasional (UN) tetap jadi momok yang menakutkan bagi sebagian pelajar sekolah. Pelajar Muhammadiyah Makassar menuntut agar UN ditiadakan. Penolakan terhadap UN dilakukan oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Selatan. Bersama dengan puluhan pelajar SMU di Makassar, mereka menggelar aksi di kantor DPRD Sulsel, Kamis (14/4/2011). Elly Oschar, dari Rumah Pengaduan Pendidikan IPM Sulawesi Selatan mengatakan, sistem pendidikan yang berstandar nasional tidak harus diiringi dengan standar pelayanan pendidikan yang bersakal nasional. "Permasalahan yang muncul kemudian diadakannya UN sebelum standar pelayanan tersebut belum merata ke seluruh daerah di Indonesia," ujarnya. Masih banyak sekolah yang belum mendapatkan tenaga pendidik yang berkualitas, sarana dan prasarana yang ideal. Sehingga ujian berstandar nasional semestinya hanya boleh diberikan, jika instrumen masukan dan proses pendidikan sudah berstandar nasional juga. Maka dari itu, faktanya banyak pelajar di daerah yang belum terpenuhi sarana dan prasarana itu, tidak lulus usai mengikuti UN. "Jika instrumen masukan dan proses yang diberikan tidak berstandar nasional dan mengukurnya dengan UN standar nasional adalah sebuah kesalahan fatal," ucap dia. Di depan para anggota dewan, ia mengingatkan keputusan MA terkait UN, bahwa pemerintah tidak boleh melaksanakan UN sebelum sarana dan prasarana seluruh pendidikan di Indonesia dilengkapi. Sehingga menjadi kewajiban pemerintah untuk melaksanakan putusan MA. Mereka juga menuntut pemerintah untuk melaksanakan putusan MA dengan nomor register 2596 K/PDT/2008 yang diputus pada 14 September 2009, untuk segera dilaksanakan oleh pemerintah. Saat menyampaikan aspirasinya, pengunjukrasa diterima oleh Yosafat Tandilintin dari komisi C fraksi Golkar, Mukhlis Panaungi komisi E fraksi PAN, Mukhtar Tompo dari fraksi Hanura. Ketiganya mendukung aksi yang dilakukan oleh para pelajar yang menggunakan seragam sekolah ini. Mereka juga membenarkan kalau kondisi di tiap daerah tidak sama. Sehingga UN juga jangan diterapkan seragam. "Memang tidak rasionl kalau ujiannya standar nasional tapi kondisi berbeda dengan skolah yang ada di Irian, Jakarta tidak sama," tutur Yosafat Tandilintin. Ia mengantakan masalah ini memang perlu keterlibatan wakil rakyat utamanya mendukung keputusan MA. Ia juga menyarankan agar perjuangan IPM perlu sistematis, aspirasi mereka dikoorinasikan ke IPM pusat sehingga bisa mempressur pemerintah pusat. [lal] Berita Terkait
UN = Monster Yang Menakutkan
UN Monster yang menakutkan Rab, 20/04/2011 - 09:00 — edt1 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Selatan Kamis melakukan Unjuk rasa di DPRD Sulsel. IPM tersebut dipimpin Jenderal Lapangan Elly Oschar dan menyampaikan tuntutan Pemerintah bahwa Ujian Nasional ( layak dilaksanakan belum ) UN karena standar pelayanan merata di seluruh pelosak tanah air. Elly Oschar yang bertindak sebagai jenderal lapangan yang memimpin saat pada rasa unjuk mengatakan,Standar kelulusan Ujian Nasional merupakan kekejaman dan ketidak adilan yang berlindung dibalik peningkatan mutu pendidikan dan mengorbankan mereka yang belum menerima dan pendidikan fasilitas menikmati berstandar Nasiolal yakni dan prasarana yang berstandar Nasional sehingga tersebut bagaikan monster membuat bahkan menakutkan stress sebagian pelajar yang berada di luar wilayah perkotaan. Dikatakan, tahun 2012 UN harus dihentikan dan mencari menuntut dan baik lebih yang Perintah segera melaksanakan Putusan Mahkamah Agung meninjau yang isinya meninjau kembali sistim pendidikan Nasiolnal, pemerintah menuntut menghentikan pelaksanaan nasional sebagai standar kelulusan, menuntut pemerintah melengkapi sarana dan prasarana sekolah diseluruh Indonesia tanpa diskriminasi dan menuntut menyediakan untuk pemerintah pendamping psikologis pelajar yang tidak lulus Nasiolan sehingga tidak mengalami stress. Penerima IV Tim Ketua DPRD Sulsel Yosafat Tandilintin yang menerima IPM mengakui bahwa UN sekarang ini memang kebahagiaan puncak menjadi sekaligus dilemma sebagianpelajar sehingga pribadi saya setuju jika Dievaluasi kembali kembali karena ternyata banyak pelajar yang takut menghadapi ujian . karena demikian Kenapa kelulusan adalah UN. Sementara sarana dan prasarana digunakan selama proses berstandar belum mengajar Nasional termasuk tenaga pengajar sampai hari ini belum merata seluruh pelosok tanah air. Menurut Yosafat, Pelajar di Ibukota lainnya besar kota-kota dan Indonesia mungkin bisa mengikuti standar kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah dilengkapi sudah karena sarana dan prasarana memadai tetapi yang didarah terpencil pendidikan fasilitas menggunakan apa adanya itu pasti ketinggalan. Muchlis Panaungi yang Tim IV Penerima Aspirasi Sulsel. Saat itu juga mengatakan sejutu jika UN yang belaku sekarang kembali dievaluasi ini memeinta IPM untuk berjuang terus sampai masalah terpecahkan sehingga seluruh anak bangsa dapat mengenyap pendidikan dengan baik . Humas DPRD Sulsel ( Luc ).
Pernyataan Sikap IPM SulSel
Sulsel Buka Posko Pengaduan UN
Senin, 15 April 2013 19:21 WITA
Elly Oschar Ketua Umum, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Sulawesi Selatan,
Menanggapi tertundanya ujian nasional UN di 11 provinsi termasuk provinsi Sulawesi Selatan, ini menandakan ada yang tidak beres di tubuh kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Maka Kami dari Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang konsen pada pendidikan dan dunia pelajar secara tegas menyatakan sikap terkait hal tersebut :
1. Penundaan UN diakibatkan karena percetakan, ini mengindikasikan ada monopoli percetakatan, kalau ada monopoli percetakan maka kami mensinyalir ada praktek-praktek korupsi di sana dan hal ini seharusnya tak terjadi. Ini menjadi catatan sejarah hitam pertama kalinya di dunia pendidikan di Indonesia. Kami dari Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sulawesi Selatan meminta semua pihak terutama penggiat anti korupsi di negeri ini untuk jelih melihat persoalan ini. dan meminta kepada Presiden RI untuk segera mengevaluasi kinerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.
2. Sejak awal Kepemimipinan Muh Nuh Sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, kami menilai ia tak becus dan tak beres mengurusi dunia pendidikan. Semenjak kepemimpinannya kita saksikan sama – sama, banyaknya kasus-kasus yang menimpa dunia pendidikan kita. Mulai dari tawuran antar pelajar (bahkan ada korban meninggal dunia) begitupun dengan tawuran antar mahasiswa yang berujung juga dengan tewasnya generasi bangsa dengan sia-sia. Banyaknya perbuatan asusila siswa, guru dan lainnya. Perbaikan sarana dan prasarana pendidikan yang tak kunjung diperhatikan sampai pada pelaksanaan UN yang tertunda sebagai akumulasi dari ketidak beresan kepemimpinan Muh Nuh di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Oleh karena Itu kami dari Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sulawesi Selatan Meminta dengan Tegas Kepada Bapak Muh. Nuh untuk turun saja dari Jabatannya sebagai menteri Pendidikan dan Kebudyaan RI karena tidak beres mengurusi pendidikan di Indonesia.
3. IPM sudah lama menyuarakan agar UN dihapuskan saja dari sistem pendidikan kita. Kenapa karena dengan UN ini hanya akan melahirkan bibit –bibit koruptor baru di negeri ini, karena hampir semua elemen actor pendidikan juga ikut UN demi untuk mendapatkan peridikat terbaik. UN adalah sosok makhluk seperti monster yang menakutkan bagi anak-anak negeri ini dan kami menilai bahwa UN adalah pembodohan secara sisitematis bagi generasi bangsa ini.
Olehnya itu, kami dari Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah membuka Posko Rumah Pengaduan UN di seluruh level kepemimipinan di seluruh Sulawesi Selatan.Mulai dari Pimpinan Ranting IPM di Sekolah- sekolah sampai di Pimpinan Wilayah IPM SulSel yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10 No. 38 Makassar. Nuun Walqalami wamaa Yasthurun.
Selasa, 07 Mei 2013
Sarjana Pulang Kampoeng (berlanjut)
Khutbah Jumat Menyambut Ramadhan
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Bagi muslim yang ideal, menyambut Ramadhan adalah sebuah kenikmatan tersendiri, namun ia menyambutnya dengan proporsional. Dalam suka cita, ia mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga bisa beramal di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.
Ada empat persiapan yang kita perlukan dalam menyambut bulan Ramadhan, khususnya Ramadhan 1432 H ini:
Allah SWT menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya:
Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams : 9)
Maka dalam waktu satu setengah bulan ke depan kita perlu melakukan evaluasi diri, muhasabah, apakah penyakit-penyakit aqidah masih bersarang dalam diri kita.
Sungguh sangat rugi, jika kita susah payah beramal, namun masih ada kesyirikan yang bersemayam dalam diri kita. Tak peduli sebesar apapun amal kita, jika kita syirik, menyekutukan Allah, maka amal-amal kita tidak akan diterima.
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al Zumar: 65)
Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Pemahaman ilmu syar'i ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang. Karenanya Rasulullah SAW bersabda :
Ramadhan membutuhkan persiapan jasadiyah yang baik. Tanpa persiapan memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan ibadah kita tidak bisa berjalan normal. Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Kita diharapkan tetap produktif dengan pekerjaan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa. Kita juga akan melakukan ibadah dalam porsi yang lebih lama dari sebelumnya. Shalat tarawih, misalnya. Karenanya kita perlu mempersiapkan jasadiyah kita dengan berolah raga secara teratur, menjaga kesehatan badan, dan kebersihan lingkungan. Di sini, logika akal bertemu dengan keutamaan syar'i dalam hadits nabi:
Persiapan keempat dalam menyambut Ramadhan adalah persiapan maliyah, persiapan harta.
Persiapan maliyah yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramdhan bukanlah untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, dan lain-lain. Kita justru memerlukan sejumlah dana untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar (buka puasa) orang lain dan membantu orang yang membutuhkan. Tentu saja bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab dan haul wajib mempersiapkan zakatnya. Bahkan, jika kita mampu berumrah di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang bernilai luar biasa; seperti nilai haji bersama Rasulullah SAW.
KHUTBAH KEDUA
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah, Salah satu tuntunan Allah SWT adalah mensegarakan amal kebaikan dan upaya mendapatkan ampunan. Sebagaimana firman-Nya:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi; disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali Imran : 133)
Maka demikian pula kita mensegerakan diri dalam menyambut Ramadhan dengan persiapan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah dan maaliyah kita Semoga dengan upaya kita mempersiapkan diri dalam menyambut Ramadhan 1432 H ini, Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan Ramadhan, lalu memberikan taufiq kepada kita untuk mendapatkan keberkahan Ramadhan itu. Selama sebulan penuh kita beramal di bulan suci lagi mulia itu, disertai dengan rahmat dan ampunan Allah SWT, hingga menjadikan kita diridhai-Nya lalu dianugerahi surga.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

