Menjadi kebanggaan orang tua dan orang lain ( orang-orang di
kampoeng ), adalah bahagian dari impian setiap anak negeri ini yang mencoba
mengaduh nasib di dunia pendidikan khususnya mereka yang menimbah ilmu dan
pengalaman di kota-kota besar, dengan berharap-harap dalam kecemasan akan lebih
baik dari mereka yang tidak berjuang. Ketika mereka sudah berstatus mahasiswa
maka naik lagi derajat social kedua orang tua dan keluarganya di kampong karena
anaknya bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Ketika anaknya itu
bergelar sarjana dan akan diwisuda, maka orang tua akan berusaha sebisa mungkin
untuk menghadiri wisuda anaknya di perguruan tinggi dengan kegembiraan yang
amat sangat tak terhingga. Bahkan terkadang jauh sebelum mereka berangkat,
informasi akan keberangkatannya itu sudah terpublis ke pelosok kampoeng. Namun
yang jadi pertanyaan apa yang bisa dibanggakan dari seorang yang sudah bergelar
sarjana?? Bukankah data yang membuktikan kalau setiap kali perguruan tinggi melantik
mahasiswanya menjadi Sarjana maka bersamaan dengan itu tanpa disengaja
perguruan tinggi juga mencetak pengangguran baru di negeri ini. alih-alih
sarjana membangun desa, mengurus diri mereka sendiri saja sudah susah. Tetapi
tentunya tidak semua mahasiswa yang selesai dengan gelar sarjananya tidak mampu
berbuat untuk kemajuan daerahnya.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin menjadi
mahasiswa sukses study dan sukses membangun kampong. Pertama, ketika gelar mahasiswa sudah diletakkan di pundak, maka ia
harus menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, jangan sekali-kali
menjadi mahasiswa yang apatis, yang penting selesai kuliah dapat gelar sarjana,
mendaftar menjadi pegawai negeri, menikah, berkeluarga, lalu mati. Tamatlah
hidup kita dan bahkan tamatlah bangsa kita ketika para penerus kejayaan bangsa
ini berpikir semacam ini. Mahasiswa pada esensinya serba bisa, jadi mulailah
mengenal dunia kampus, dunia organisasi untuk mengembangkan potensi dan bakat
yang terpendam jauh di dalam diri kita yang tak pernah dibangunkan.
Kedua, bangunlah jaringan seluas mungkin,
karena potensi jaringan itu ada dan besar ketika kita jadi mahasiswa. Di di
dunia Kampus adalah miniature pradaban dunia. Di sanalah kita mulai segala hal
untuk kesuksesan kita di masa yang akan datang. Suku, ras dan agama menyatu di
dalam dunia kampus. Maka jelas itu adalah potensi yang harus kita jeli
melihatnya dan memanfaatkannya.
Ketiga, ketika sudah pulang kampoeng, maka
dengan berbagai potensi yang dimiliki yang diasa sejak menjadi mahasiswa
tentunya akan melihat dengan cerdas potensi yang dimiliki oleh kampoengnya.
Maka dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman plus jaringan yang dimiliki
maka ia sedikit akan terbantu untuk membangun daerahnya. Tentunya dalam
melakukan proses pembangunan di daerah memerlukan keahlian dan kerjasama karena
dunia sekarang adalah dunia kompetitif maka suatu keniscayaan setiap orang
harus memiliki keahlian. Dan keahlian itu kita dapatkan sejak jadi mahasiswa
lewat terpaan dunia kampus dan lebih besar pengaruhnya di dunia organisasi.
SELAMAT MENCOBA BRO....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar