Minggu, 20 September 2015

PERSPEKTIF PEMUDA DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI (Elly Oschar: Wakil Sekretaris DPD I KNPI SULSEL)

Menyelesaikan masalah korupsi di negeri ini, berarti sudah menyelesaikan seperdua masalah bangsa ini. Peraktek korupsi harusnya sudah menjadi musuh bersama untuk kehidupan yang lebih baik kedepannya. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 pengertian korupsi adalah perbuatan melawan hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara. Korupsi sebagai suatu fenomena sosial bersifat kompleks, sehingga sulit untuk mendefisinikannya secara tepat tentang ruang lingkup konsep korupsi. Korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik, yang berarti tindakan korupsi yang sepertinya sudah melekat kedalam sistem menjadi bagian dari operasional sehari-hari dan sudah dianggap lazim serta tidak melanggar apa pun. Misalnya sebuah instansi yang menerima uang dari rekanan dan kemudian dikelolanya sebagai dana taktis, entah itu sebagai semacam balas jasa atau apa pun. Kalau mark up atau proyek fiktif sudah jelas-jelas korupsi, tetapi bagaimana seandainya itu adalah pemberian biasa sebagai ungkapan terimakasih. Kalau itu dikategorikan korupsi, maka mungkin semua instansi akan terkena. Dana taktis sudah merupakan hal yang biasa dan itu salah satu solusi untuk memecahkan kebuntuan formal. Ada keterbatasan anggaran lalu dicarilah cara untuk menyelesaikan banyak masalah.Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah. Hingga kini pemberantasan korupsi di Indonesia belum menunjukkan titik terang melihat peringkat Indonesia dalam perbandingan korupsi antar negara yang tetap rendah.Hal ini juga ditunjukkan dari banyaknya kasus-kasus korupsi di Indonesia. Sebagai contoh sederhana ketika anak-anak negeri ini yang notabenenya generasi pelanjut bangasa ini, ketika mereka mau melanjutkan pendidikannya saja harus diajari berperilaku korupsi sampai mereka mau menamatkan pendidikan merekapun disuguhi dengan praktek korupasi. “Pelajar” yang ingin mencari bangku di sebuah sekolah yang berlabel “negeri” dengan menggunakan “jalur mandiri”. ‘Dia’ menyiapkan sejumlah uang untuk menyuap “orang dalam” agar mendapatkan bangku di sekolah tersebut. Dan ketika mereka mau menyelesaikan pendidikannya masih saja melakukan cara-cara korup, pelajar yang ingin lulus sekolah misalnya dalam beberapa tahun terakhir ini mereka harus mengikuti Ujian Nasional dan dalam praktek Ujian Nasional itulah mereka diajari cara-cara korupsi karena yang ikut Ujian adalah Kepala Sekolahnya, Gurunya dan bahkan juga orang tuanya ikut Ujian Nasional bukankah pada saat yang bersamaan kita telah mengajarkan kepada generasi bangsa ini tentang “ketidakjujuran” dan itulah bibit-bibit koruptor baru yang kita ciptakan di dunia pendidikan kita. Itulah contoh kecil tindakan korupsi yang terjadi di kalangan pelajar. Oleh karena itu, pendidikan anti korupsi harus cukup jelas dalam hal bagaimana dan seberapa banyak jenis korupsi serta tindakan yang tidak “halal” itu merugikan masyarakat terutama diri sendiri. Maka sangat ingin rasanya kita impikan bersama pada saatnya sekaligus menjadi rekomendasi agar ada Bidang Studi "Memberantas Korupsi" dalam satuan pelajaran pendidikan formal yang diajarkan secara dini kepada pelajar. Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Korupsi menurut Huntington (1968) adalah perilaku pejabat publik yang menyimpang dari norma-norma yang diterima oleh masyarakat, dan perilaku menyimpang ini ditujukan dalam rangka memenuhi kepentingan pribadi. Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum. Selanjutnya, dengan merujuk definisi Huntington diatas, Heddy Shri Ahimsha-Putra (2002) menyatakan bahwa persoalan korupsi adalah persoalan politik pemaknaan. Maka dapat disimpulkan korupsi merupakan perbuatan curang yang merugikan Negara dan masyarakat luas dengan berbagai macam modus. Seorang sosiolog Malaysia Syed Hussein Alatas secara implisit menyebutkan tiga bentuk korupsi yaitu sogokan (bribery), pemerasan (extortion), dan nepotisme. Alatas mendefinisikan nepotisme sebagai pengangkatan kerabat, teman, atau sekutu politik untuk menduduki jabatan-jabatan publik, terlepas dari kemampuan yang dimilikinya dan dampaknya bagi kemaslahatan umum (Alatas 1999:6). Inti ketiga bentuk korupsi menurut kategori Alatas ini adalah subordinasi kepentingan umum dibawah tujuan-tujuan pribadi yang mencakup pelanggaran-pelanggaran norma-norma, tugas, dan kesejahteraan umum, yang dibarengi dengan kerahasiaan, pengkhianatan, penipuan, dan sikap masa bodoh terhadap akibat yang ditimbulkannya terhadap masyarakat. Istilah korupsi dapat pula mengacu pada pemakaian dana pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi ini tidak hanya menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi menyangkut pula korupsi politik dan administratif. Seorang administrator yang memanfaatkan kedudukannya untuk menguras pembayaran tidak resmi dari para investor (domestik maupun asing), memakai sumber pemerintah, kedudukan, martabat, status, atau kewenangannnya yang resmi, untuk keuntungan pribadi dapat pula dikategorikan melakukan tindak korupsi. Penyebab adanya tindakan korupsi sebenarnya bervariasi dan beraneka ragam. Akan tetapi, secara umum dapatlah dirumuskan, sesuai dengan pengertian korupsi diatas yaitu bertujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, kelompok, keluarga, golongannya sendiri. Dalam teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne atau sering disebut GONE Theory, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi meliputi Greeds (keserakahan) : berkaitan dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang. Opportunities (kesempatan) : berkaitan dengan keadaan organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa, sehingga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan. Needs (kebutuhan) : berkaitan dengan faktor-faktor yang dibutuhkan oleh individu-individu untuk menunjang hidupnya yang wajar. Exposures (pengungkapan) : berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan melakukan kecurangan. Peran Serta Pemuda Dalam Memberantas Korupsi Pemuda adalah sebuah kosakata yang selalu diaminkan kehadirannya dalam sejarah negara manapun di dunia ini. Padanya kita berharap untuk kehidupan yang lebih baik dan menjanjikan, maka seharusnya kita juga sedikit memberikan kepercayaan kepada Pemuda dalam hal pemberantasan korupsi, apalagi tentunya dengan peran serta pemuda dapat menjadi kekuatan dalam menangani tindakan korupsi demi keberlanjutan pembangunan bangsa dan peradaban manusia. Sesuai kekuatan pemuda sebagai: agen perubahan, sosial control, dan moral force. Seperti kata Bung Karno (sang proklamator Republik Indonesia) di dalam sebuah pidatonya “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia ini”. Makna dari penggalan pidato tersebut adalah bahwa pemuda menjadi modal sosial utama dalam pembentukan dan pertumbuhan serta perkembangan sebuah bangsa. Apalah jadinya jika bangsa ini tanpa pemuda, mungkin tidak akan pernah ada Indonesia di peta dunia. Sejarah terbentuknya suatu bangsa diawali dengan pergerakan kaum muda. Pergerakan ini menjadi embrio dan tonggak awal kelahiran Indonesia sebagai sebuah bangsa yang utuh. Pemuda selalu identik dengan perubahan sosial di Indonesia sejak zaman kolonial hingga sekarang. Peran kesejarahan dan keterlibatan yang amat panjang telah menempatkan pemuda sebagai kelompok strategis yang memiliki daya dorong transformasi sosial yang signifikan. Pemuda adalah aset zaman yang paling menentukan kondisi zaman tersebut dimasa depan. Dalam skala yang lebih kecil, pemuda adalah aset bangsa yang akan menentukan mati atau hidup, maju atau mundur, jaya atau hancur, sejahtera atau sengsaranya suatu bangsa. Belajar dari masa lalu, sejarah telah membuktikan bahwa perjalanan bangsa ini tidak lepas dari peran kaum muda yang menjadi bagian kekuatan perubahan. Hal ini membuktikan bahwa pemuda memiliki kekuatan yang luar biasa. Tokoh-tokoh sumpah pemuda 1928 telah memberikan semangat nasionalisme bahasa, bangsa dan tanah air yang satu yaitu Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda memberikan inspirasi tanpa batas terhadap gerakan-gerakan perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Semangat sumpah pemuda telah menggetarkan relung-relung kesadaran generasi muda untuk bangkit, berjuang dan berperang melawan penjajah Belanda. Indonesia dianugerahi potensi pemuda sebanyak lebih dari 70 juta jiwa. Apabila pemuda-pemuda tersebut memainkan peranan strategisnya sebagai agen perubahan, tentunya negara kita tidak akan menjadi korban negara-negara maju di era globalisasi ini. Kenyataan yang kita hadapi saat ini adalah Indonesia masih sangat akrab dengan permasalahan, seperti pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi tetapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang setinggi pertumbuhan penduduk itu pula. Indonesia dianugerahi dengan limpahan potensi sumber daya alam dan kuantitas sumber daya manusia yang luar biasa, tetapi sumber daya tersebut belum dapat dikelola dengan sebaik-baiknya oleh warga negara ini. Yang terjadi justru, negara asing yang mengeruk keuntungan sumber daya alam dan mengeksploitasi sumber daya manusia negeri ini. Hal ini terjadi karena mayoritas pemuda Indonesia masih bergelut dengan berbagai macam “penyakit” seperti pengangguran, narkoba, nasionalisme yang rendah, dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu dibentuk suatu pola pembangunan kepemudaan, supaya tercipta pemuda yang berakhlak mulia, cerdas, kreatif, inovatif, dan bertangggung jawab sehingga akhirnya pemuda tersebut dapat mengoptimalkan perannya untuk mengembangkan potensi alam daerahnya yang nantinya akan membawa Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Untuk konteks sekarang dan mungkin masa-masa yang akan datang yang menjadi musuh bersama masyarakat adalah praktek bernama Korupsi. Fakta bahwa korupsi sudah sedemikian sistemik dan kian terstruktur sudah tidak terbantahkan lagi. Ada cukup banyak bukti yang bisa diajukan untuk memperlihatkan bahwa korupsi terjadi dari pagi hingga tengah malam, dari mulai soal pengurusan akta kelahiran hingga kelak nanti pengurusan tanah kuburan, dari sektor yang berkaitan dengan kesehatan hingga masalah pendidikan, dari mulai pedagang kaki lima hingga promosi jabatan untuk menduduki posisi tertentu di pemerintahan. Oleh karena itulah, peran kaum muda sekarang adalah mengikis korupsi sedikit demi sedikit, yang mudah-mudahan pada waktunya nanti, perbuatan korupsi dapat diberantas dari negara ini atau sekurang-kurangnya dapat ditekan sampai tingkat serendah mungkin. Adapun peran pemuda yang dapat dilakukan dalam pemberantasan yaitu: Memberi pendidikan anti korupsi tentang bahaya melakukan korupsi, menjadi alat pengontrol terhadap pemerintah, membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan pemerintahan negara dan aspek-aspek hukumnya, mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan. Ada empat pola pembangunan kepemudaan yang dapat diterapkan termasuk dalam pemberantasan korupsi: Pertama, adalah pengembangan kepemudaan harus dilakukan secara sistemik, komprehensif, akselaratif, sinergis, dan integratif, sehingga hasil dari pengembangan pemuda itu tidak hanya dinikmati dalam jangka pendek, tapi dapat diwariskan juga kepada pemuda generasi berikutnya. Kedua adalah pembangunan kepemudaan harus meliputi ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, sehingga nantinya pemuda tersebut dapat memaksimalkan kontribusinya ke lima sektor tersebut. Ketiga adalah dalam pembangunan kepemudaan harus dilakukan secara ordinal mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Keempat adalah dalam pembangunan kepemudaan harus disediakan wahana aktualisasi diri pemuda yang mudah diakses oleh para pemuda. Untuk menjadikan pemuda sebagai aktor terdepan bagi bangsa Indonesia di dalam menghadapi tantangan atau dinamika politik Indonesia terutama dalam pemberantasan korupsi diperlukan pembenahan dari dalam diri pemuda Indonesia terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar jiwa nasionalisme kembali tertanam di benak pemuda Indonesia yang semakin tergerus globalisasi. Permasalahan korupsi yang sudah mengakar dan menjadi penyakit sebagai implikasi yang harus dihadapi dengan semangat kemandirian dari para generasi muda

Rabu, 09 Oktober 2013

IDEALITAS KEPEMIMPINAN KAUM MUDA (Sebuah catatan kecil: “Antara Ambisi dan Tuntutan Regulasi”)

IDEALITAS KEPEMIMPINAN KAUM MUDA (Sebuah catatan kecil jelang Musprov DPD KNPI Sulsel 2013 : “Antara Ambisi dan Tuntutan Regulasi”) By. Elly Oschar Ketua Umum Pw IPM SulSel Perhelatan Akbar DPD KNPI SULAWESI SELATAN dalam wujud “Musyawarah Propinsi DPD KNPI SULSEL“ sebentar lagi terlakasana. Tentunya kita berharap ajang ini menjadi momentum bersama dalam mengevaluasi apa yang telah dikerjakan oleh Pemuda dalam wadah KNPI selaku fasilitator OKP-OKP di tingkat Provinsi, disamping sebagai upaya untuk mempertegas kembali eksistensi Pemuda seperti disebutkan oleh Jose’ Ortega G. Yasset, bahwa pemuda adalah the agent of change, yang di bebani harapan-harapan dan menjadi pioneer dalam penyelesaian permasalahan, sehingga begitu besar ekspektasi kaum muda dalam mempersiapkan diri menyongsong masa depan yang mapan dan bermartabat untuk bangsa dan negara Sejarah telah membuktikan, bahwa dalam setiap perubahan sosial dan politik pada hampir seluruh negara di belahan bumi, pemuda selalu dicatat sebagai pelaku yang memiliki peran strategis yang memungkinkan untuk ikut menentukan perubahan arah dan kebijakan pembangunan. Pemuda adalah suatu umur yang memiliki kehebatan tersendiri, yang menurut DR. Yusuf Qardhawi ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas. Pemuda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan semangat yang enerjik bila dibanding dengan anak kecil atau orang jompo. Pemuda mempunyai potensi yang luar biasa, bisa dikatakan seperti dinamit atau TNT bila diledakan. Akan tetapi jika tidak dilakukan pembinaan maka yang terjadi adalah sebaliknya. Potensinya tak tergali, semangatnya melemah atau yang lebih buruk lagi ia menggunakan potensinya untuk hal-hal yang tidak baik misalnya tawuran dsb. Sekali lagi , pemuda adalah usia dan sosok yang hebat meski tidak semua pemuda adalah hebat. M. Masad Masrur, (Intelektual dan Kepemimpinan Kaum Muda, 2007), menyebutkan ada tiga karakteristik kepemimpinan dan intelektual kaum muda. Pertama, kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif, kritis, dan mau tampil. Tipe pemuda itu merupakan kaum muda yang paripurna. Kedua, kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif, kritis, tapi tidak mau tampil. Men of behind, yaitu jenis kaum muda dengan kualitas baik. Ketiga, tipe kaum muda yang tidak punya ide-gagasan, tidak kreatif, tidak kritis, dan tidak mau tampil. Jenis kaum muda itu pasif dan cenderung menjadi "benalu" dalam setiap aktivitas yang melingkari kaum muda. Disinilah tumpuan harapan terhadap potensi kaum muda yang mempunyai ide-gagasan, kreatif & kritis mau tampil ke garda terdepan dan mau berbuat serta mengabarkan kepada kita bahwa inilah saya Pemuda Indonesia. Dari latar belakang apapun, tanpa memandang suku, ras dan agama kalau ia memenuhi kretiria tersebut sebagai pemuda paripurna patut kita apresiasi pada Musprov DPD KNPI Sulsel mendatang sebagai representasi yang akan mengartikulasikan kepentingan pemuda dan bangsa di masa mendatang. Sudah bisa dibayangkan seperti apa tema sentral yang coba diusung ketika rencana Musprov DPD KNPI Sulsel ini diadakan bersamaan tepat dengan momentum peringatan hari sumpah pemuda 28 Oktober 2013 mendatang. Merefleksi pada tahun 1928, kaum muda mengguncang sejarah dengan mendeklarasikan Sumpah Pemuda, sebuah manifesto yang heroik, dimana seluruh organisasi pemuda se- nusantara berkumpul dan mengikrarkan tiga sumpah yang sekarang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Harapan akan tumbuhnya spirit sumpah pemuda tetap berapi-api dalam tubuh pemuda-pemuda daerah Sulawesi Selatan tidak sekedar manis pada puncak teoritis. Hal ini penting mengingat ada utang sejarah yang belum dituntaskan oleh generasi saat ini dari generasi terdahulu. Namun sebuah fenomena baru yang muncul pun tak bisa dipungkiri, bahwa Kebanyakan dari kita masih belum bisa sepenuhnya mempercayakan kepemimpinan kepada kaum muda dengan standar usia antara 16 – 30 tahun, sehingga terasa sekali kondisi KNPI sekarang ini tidak lagi menjadi rumah yang baik bagi anak muda dengan rentang usia tersebut karena orang-orang yang sudah udzur pun enggan meninggalkan KNPI, faktornya bukan karena semangat berkontribusi bagi bangsa akan tetapi karena merasa nyaman dengan prestise dan fasilitas mewah. Kecenderungan untuk menjadikan organisasi yang mempertarungkan kepentingan politik tertentu pun aromanya lebih dominan dan masih terasa kuat. Musprov DPD KNPI terkesan sebagai sebuah perhelatan dan perebutan kekuasaan untuk melanggengkan penguasa saat ini. Mind Stream pemuda cenderung dicekoki oleh pemikiran yang sifatnya opportunis dan pragmatis dengan alasan tingkat usia yang dinilai masih labil. Apalagi sistem demokrasi kita pada setiap suksesi kepemimpinan dibeberapa level momentum pemilihan masih cenderung bersifat transaksional. Artinya, siapa dapat apa, dan berapa. Kita tetap berharap kepada tim seleksi calon ketua atau pengurus DPD KNPI SULSEL ke depan di samping mempertaruhkan komitment dan integritasnya dalam proses pemilihan calon ketua dan pengurus DPD KNPI periode mendatang bekerja secara independen yang terbebas dari intervensi manapun “kecuali intervensi dari langit yang merupakan Hidayah atau petunjuk” agar betul-betul selektif dan obyektif dalam menilai, melihat, memperhatikan serta konsisten terhadap regulasi yang ada khususnya pada UU Kepemudaan No. 40 tahun 2009 yang di dalamnya telah ditegaskan bahwa organisasi kepemudaan adalah yang berusia 16 – 30 tahun. Mengutip pernyataan Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora RI Dr. Alfitra Salaam pada pembukaan KONPIWIL IPM KE XIX Di Kota Padang Sumatera Barat 28 September 2013 lalu bahwa UU Kepemudaan ini akan diberlakukan pada tanggal 28 Oktober 2013 nanti, saat itu lanjut beliau sembari menegaskan, bahwa OKP yang tidak bisa memenuhi atau menyusaikan diri terhadap aturan tersebut maka otomastis OKP itu akan berubah menjadi ORMAS. Artinya pembinaan OKP akan berpindah ke Kementrian Dalam Negeri karena ORMAS di bawah garis pembinaan Kemendagri sedangkan OKP oleh Kemenpora. Kita bisa saja sepakat bahwa Seleksi dan suksesi Kepemimpinan DPD KNPI adalah ihwal membangun kepemimpinan kaum muda yang berwibawah, berpengalaman, matang, dan lebih baik ke depan sebagai sebuah potret ideal, akan tetapi hal itu bukan berati mengabaikan regulasi atau aturan yang ada. Sebuah tantangan baru ketika kita diperhadapkan pada pilihan antara ambisi atau menunaikan tuntutan regulasi. Namun Lagi-lagi ini bukan hanya pada soal UU Kepemudaan, tetapi lebih kepada sebuah proses Regenerasi di tubuh KNPI itu sendiri. Bukankah Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya? Semoga dengan momentum hari sumpah pemuda kita buktikan kalau semangat sumpah pemuda itu masih ada, dengan cara mewujudkan konsistensi kita terhadap UU Kepemudaan. Serahkan KNPI itu kepada kaum Muda bukan kaum tua. Alangkah bijaknya jika yang merasa sudah tua mau dan ikhlas mengakui –meski cuma sedikit- potensi kaum muda yang lebih enerjik, karena persoalan potensi dan kompetensi hanya persoalan kesempatan saja. Dan justeru sebaliknya, Kalaulah hal ini tetap tidak dipatuhi lalu kepada siapa lagi kita akan berharap untuk perubahan?? Maka dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa lebih baik KNPI dibubarkan saja karena KNPI bukan lagi OKP melainkan telah berubah menjadi ORMAS. Potret idealitas kepemimpinan kaum muda di atas singgasana KNPI hanyalah mimpi yang tergantung kaku di bawah bayang-bayang generasi tua yang egois dan kepala batu.

Senin, 07 Oktober 2013

Negeri Sentosa, Tak Tersorot Kamera

Negeri Sentosa, Tak Tersorot Kamera Indonesia ternyata tidak kekurangan pemimpin berkualitas. Saat mata banyak tertuju ke Jokowi di Jakarta dengan gebrakannya, di daerah-daerah kita sebenarnya punya banyak inspirasi lain. Salah satunya dari Sinjai, sebuah kabupaten kecil di Sulawesi Selatan. Kepemimpinan yang kuat mampu membuat daerah ini berkembang. Jokowi dijamin minder atas apa yang diperbuat bupatinya. Cerita perjalanan ini akan menjelaskan sedikit tentang wilayah tersebut. salah satu pemandangan di Pulau Sembilan, Sinjai sumber: dok.pribadi Sebelum masuk Sinjai, saya ditantang taruhan oleh Mail, supir rental yang menemani saya dari Makassar. “Abang boleh cari jalan jelek di Sinjai, bahkan di kampung-kampung sekali pun. Atau coba cari pengendara motor yang keluar rumah tanpa helm, walau cuma ke warung terdekat. Kalau Abang ketemu, boleh potong honor saya setengah” tantangnya. Awalnya saya anggap itu angin lalu saja, namun Mail semangat sekali berpromosi. Di sepanjang perjalanan dia bercerita perkembangan Sinjai di bawah kepemimpinan Rudiyanto Asapa, Bupati dua periode yang saat ini juga maju sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan. Masuk Sinjai menjelang maghrib, saya menginap di Hotel Sahid Sinjai, sebelah kediaman resmi Bupati. Target pertama saya adalah menikmati satu-satunya kehidupan malam di Sinjai. Kehidupan malam yang sangat sehat. Sebuah perputaran ekonomi yang mensejahterakan nelayan maupun warga secara keseluruhan, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sinjai. Suasana TPI Sinjai di pagi hari (sumber: dok pribadi) Pusat pelelangan ikan Sinjai mulai ramai sekitar pukul 19.30. Ratusan kapal penangkap ikan parkir dan berbaris rapi di pinggir pelelangan. Parkir dengan retribusi resmi yang menguntungkan daerah. Nelayannya bukan hanya dari Sinjai, nelayan dari Bantaeng, Bulukumba, bahkan dari Makassar lebih suka parkir dan menurunkan ikan di pusat pelelangan ikan ini. Sebab manajemennya transparan dan rapi. Taka ada tengkulak yang memonopoli harga. Ikan diturunkan dan langsung disambut oleh para pedagang. Masyarakat lalu-lalang bertransaksi baik membeli ikan partai besar maupun eceran untuk kebutuhan sehari-hari. Ini pasar yang hampir sempurna, tidak ada cukong atau tengkulak yang bisa mengintervensi harga ikan. Nelayan, penjual, dan pembeli sama-sama diuntungkan. Jika ikan tidak habis, dinaikkan lagi ke peti pendingin yang ada di kapal untuk dijual lagi pada malam berikutnya. Dengan uang lima puluh ribu, anda bukan hanya dapat 3-4 ekor ikan, tapi seperti meraup tauge. Bagi yang ingin segera menikmati ikan segar, di pintu masuk pelelangan terdapat banyak warung yang menyediakan pembakaran ikan. Inilah satu-satunya kehidupan malam di Sinjai. Pulang dari pelelangan saya mampir di sebuah toko serba ada untuk membeli perlengkapan mandi dan sikat gigi. Jangan harap anda akan menemukan waralaba semacam Alfamart atau Indomaret di tempat ini. Bupati Sinjai, hanya mengijinkan waralaba masuk ke daerahnya jika bersedia menampung produk industry rumahan warga dengan kuota tertentu. Satu hal yang sepertinya berat dipenuhi oleh perusahaan waralaba. Namun bagi sang kepala daerah, itu bentuk perlindungan terhadap sektor ekonomi kerakyatan agar tidak digilas pasar-pasar modern. Keesokan pagi saya bersiap-siap berkeliling ke pelosok Sinjai. melihat langsung hasil kepemimpinan Rudiyanto Asapa yang disanjung-sanjung warga Sinjai tersebut. Saya mulai dengan menikmati pemukiman di pusat kota. Jalan-jalan yang mulus, rapi, serta pohon rindang terbentang di sepanjang jalan. Lalu saya lanjutkan perjalanan ke Sinjai Utara. Lagi-lagi Mail mengingatkan saya soal tantangannya. “Nanti coba cari jalan jelek ya bang,” tantangnya sembari senyum-senyum. Saya tidak tertarik mencari jalan jelek tetapi sibuk memperhatikan motor-motor yang berseliweran. Penampilan motor-motor dan pengendaranya rata-rata sama, konservatif. Hampir tidak ada modifikasi. Motor harus dengan dua spion pabrikan, tanpa knalpot yang bikin berisik, serta pengedara yang lengkap dengan helm standar SNI. Konon tak ada kawasan khusus tertib lalu lintas di sini. Seluruh jalan adalah kawasan tertib lalu lintas. Sebab, polisi bisa melakukan tilang di jalan-jalan kampung sekalipun. Nama Kasatlantas Sinjai, H. Eddy, adalah nama terpopuler kedua setelah sang Bupati. Saya berhenti di Bukit Gojeng. Ini awalnya adalah tempat makam purbakala. Namun fosil-fosilnya sudah dipindahkan ke dalam museum. Lokasi situs purbakala ini sendiri diubah menjadi taman kota yang sangat asri dan indah. Sekelas dengan resort-resort super mahal di pulau jawa. Ini merupakan ruang publik tempat muda-mudi menghabiskan waktu, terutama di akhir pekan. Dan yang bikin saya kaget, petugas penjaga taman ini memberitahu saya, password free wifi yang bisa dinikmati di Bukit Gojeng. Masukkan saja password digojengku, anda bisa berselancar di internet sambil menikmati nuansa resort berkelas yang sangat asri. Kota Sinjai dilihat dari bukit gojeng himbauan menjaga dari pemerintah daerah (sumber: dok pribadi) keasrian bukit gojeng seperti dikelola swasta, bukan pemerintah (sumber: dok pribadi) Dari Bukit gojeng, saya menuju dataran rendah. Ada deretan pulau-pulau yang menarik perhatian saya ketika melayangkan pandangan dari puncak bukit gojeng. Menurut warga setempat, namanya Pulau Sembilan. Ada sembilan pulau yang terpisah dari daratan utama Kabupaten Sinjai. Saya menuju pelabuhan untuk mendapatkan speed ke Pulau Sembilan. Tidak ada tujuan khusus, hanya ingin tahu kondisi pulau-pulau yang terpisah dari daratan utama. Saya menuju pulau yang paling ramai, dan juga merupakan Pusat kecamatan Pulau Sembilan, namaya Pulau Kambuno. Perkampungan nelayan di pulau Kambuno (foto: dok. pribadi) Pulau ini dihuni oleh para nelayan. Tapi jangan bayangkan sebuah kampung nelayan yang berantakan dan kumuh. Ini jauh di luar perkiraan. Yang terlihat justru sebuah pemukiman yang sangat rapi dan bersih. Rumah-rumah panggung berjejer rapi dan gang-gang yang bersih. Hampir tidak ada rumah yang jelek, begitu juga perahu-perahu mereka yang bersandar di pinggir pulau. Persis di tengah-tengah pulau terdapat sebuah ruang publik berupa lapangan yang multifungsi. Jika diptret dari udara, akan mirip seperti stadion di tengah pulau, dikelilingi oleh rumah-rumah panggung dan tebing. Ini contoh kearifan lokal yang tidak tunduk pada keserakahan. Suasana kampung yang asri dan bersih tidak mencerminkan perkampungan nelayan yang biasa dianggap amis dan kotor. (foto. dok pribadi) Dulu pulau ini gelap gulita. Tidak ada listrik. Namun setelah dipimpin oleh Rudiyanto Asapa, Kambuno sudah dialiri listrik. Mekipun masih terbatas pada malam hari, namun membuat kemajuan dalam banyak hal, terutama pendidikan. Anak-anak bisa melajar dengan baik. Kehidupan pulau juga lebih semarak, dan sebagian di antara mereka justru bisa berselancar di internet. Ternyata pulau ini juga tersedia fasilitas Free Wifi yang dipancarkan dari kantor kecamatan. Saya telusuri semua sisi pulau. Wajah-wajah cerah penghuni pulau, terutama anak-anak menghiasi setiap langkah saya menyisir pulau. Seorang anak mengajak saya melihat bangunan SMP tempat dia bersekolah. Tempatnya ada di puncak tertinggi pulau kambuno. Katanya pemandangannya sangat indah dan tak akan bisa dilupakan. Ah, saya pikir itu hanya hiperbola saja. Saya susuri jalan setapak menanjak yang sudah dibeton. Di kiri kanan terdapat hamparan hutan kaktus seperti di gurun pasir. Sungguh nuansa yang sangat berbeda ketika sadar bahwa ini masih di pulau tropis. Di tengah-tengah hutan kaktus, terdapat sebuah balai nikah, di puncak tebing dan menghadap ke laut. Sejenak saya layangkan pandangan. Mulut ternganga dan takjub. Hamparan laut bening dengan warna kehijauan membentang di hadapan mata. Bisa dibayangkan betapa romantisnya jika pernikahan digelar di balai nikah ini. Besarnya tidak seberapa, tapi pemandangannya akan membuat moment pernikahan sebagai kenangan yang sangat berkesan. Pemandangan dari balai nikah pulau sembilan (foto. dok pribadi) Tidak jauh dari Balai Nikah itu, berdiri megah sebuah SMP negeri. Klaim anak kecil tadi ternyata bukan hiperbola. Pemandangan dari ruang guru maupun ruang belajar SMP ini setara dengan resort-resort mewah di Bali. Pantai pasir yang sempit, pohon kelapa yang tidak terlalu banyak, dan hamparan laut bening berwarna kehijauan. Saya tidak tahu apakah pemandangan ini akan membuat semangat belajar bertambah atau malah membuat ngantuk. Namun, memang harus diakui bahwa 100 persen anak-anak di sinjai sudah menempuh pendidikan dari SD sampai SMA, dan itu gratis, baik di sekolah negeri mapun swasta. Bupati Sinjai Rudiyanto Asapa sudah menerapkan kebijakan ini sejak tahun 2003. Kalau mau jujur, mungkin dia pelopor pendidikan gratis di Indonesia. Seorang Bupati yang pernah dilaporkan warganya ke polisi sebagai penculik anak, karena membawa anak-anak yang bekerja di sawah ke sekolah meski mereka tak punya seragam. Hanya sayang, tidak ada kamera wartawan Jakarta yang mampir di sini. SMP di pulau sembilan (foto: dokpribadi) Menjelang sore saya kembali ke daratan Sinjai. Bersiap-siap kembali ke Makassar. Rasa tidak puas memenuhi dada. Sebab, selalu ada kejutan di setiap pelosok Sinjai. Dan itu inspirasi untuk membuat Indonesia lebih baik. Tapi sayang, pekerjaan terlalu banyak menumpuk di Makassar dan Jakarta. Suatu saat, saya pasti kembali menyusuri sisi lain daerah ini. Sinjai memang bukan daerah ternama. Bahkan jarang ditulis media. Namun bagi yang hadir dan menikmati langsung akan segera paham bahwa ini seperti sebuah negeri yang diperintah raja bijak. Kebijaksanaan yang melahirkan ketenangan dan kesejahteraan bagi warganya

Minggu, 06 Oktober 2013

Antologi Cerpen : “Semburat Luka La Galigo” Mr. Dian Al-Pomala’a

1. PROPOSAL KOLOSAL PERBINCANGAN lepas itu terjadi saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat lima belas menit waktu Indonesia Bagian Timur. Waktu Indonesia bagian Kabupaten Barru. Itu berarti, 15 menit sudah waktu berlalu untuk menjadikan perbincangan itu lebih formal sebagaimana direncanakan. Ibu Doktor Nurhayati Emhum selaku Ketua Panitia Pusat kegiatan Festival dan Seminar Internasional “La Galigo” yang tiba dari Makassar lima belas menit lalu semakin tidak bisa lagi menyembunyikan ekspresi kecemasan dan kegelisahannya. Rambutnya sebatas bahu dibiarkan terurai ke bawah menutupi wajahnya yang pucat pasi saat melirik jam tangannya. Dalam waktu yang hampir bersamaan saat kembali mengangkat wajahnya, terdengar langkah kaki Bapak Ketua Panitia Lokal memasuki ruangan. Ibu Nurhayati dengan tidak sabaran langsung menanyakan keberadaan bapak Bupati yang telah lama dinanti. “Bapak Bupati kemana, mengapa beliau belum juga datang? Saya sudah punya janji untuk bertemu disini tepat jam 10. Seharusnya ia konfirmasikan kembali jika pertemuan ini tidak jadi. Saya suda capek-capek datang dari Makassar. Waktu saya sudah banyak terbuang!”. Ketus Ibu Nurhayati. Bapak Drs. H. A. Anwar Aksa selaku Ketua Panitia Lokal tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Barulah ia menjawab saat punggungnya merapat pada sandaran kursi tamu di lantai 2 gedung kantor bupati itu. Sebuah gedung mewah yang megah, symbol kebanggaan sekaligus keangkuhan. “Beliau saat ini menghadiri pertemuan. Hand phonenya di non aktifkan hingga sulit dihubungi”. Pak Anwar menjelaskan sambil sesekali menyeka peluh yang menetes di dahi dan pelipisnya. “Bagaimana kalau nanti saja, setelah usai sholat jum’at?” Pak Anwar mencoba menawarkan. “Dimana?” tanya ibu Nurhayati “Di rumah jabatan!” “Di rumah jabatan?” “Ya, di rumah jabatan. Ba’da jum’at”. Tandas pak Anwar. Tempat yang baru saja ditawarkan pak Anwar seakan mengunci pertemuan. Sesaat suasana jadi sunyi. Ibu Nurhayati sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ia nampak diam dengan jidat sedikit berkerut. Badaruddin Amir dan Nurrasyid yang hadir dalam perbincangan lepas itu saling berpandangan dengan model mulut nyaris bersamaan membentuk huruf “O”. Keduanya seakan tidak bisa menerima tawaran itu sebelum ada kepastian proposal pertunjukan Drama Matahari Pancana yang akan diajukan untuk di ACC. “Oh, iya bu. Bagaimana dengan proposal pertunjukan paket kesenian kami?’ tanya Badaruddin Amir membongkar kesunyian sembari menyodorkan proposal. “Oh, iya. Coba lihat”. Ibu Nurhayati menerima proposal yang disodorkan oleh Badaruddin Amir, lalu kemudian menandatanganinya. Selesai menandatangani ibu Nurhayati lalu menyerahkan kepada pak Anwar untuk ditandatanganinya pula. Namun belum lagi proposal itu tersentuh, pak Anwar sudah menolak. Ia seakan nampak gugup. “E... maaf!. Saya tidak bisa menandatanganinya jika bapak Bupati tidak ada.” Kata pak Anwar. “Ini sudah diketahui bapak Bupati sebab kami langsung direkomindir oleh ketua panitia pusat. Dalam hal ini ibu Nurhayati. Dan saya kira ibu Nurhayati juga sudah mengkonfirmasikan langsung kepada beliau. Jadi tinggal diperhadapkan saja pada bapak untuk ditanda tangani”. Jawab pak Badaruddin dengan nada meyakinkan. “E....maaf. Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak berani.” Ucap pak Anwar seraya mengangkat kedua telapak tangannya. Nurrasyid yang hanya diam sembari menjadi pendengar setia perbincangan itu mulai kesal dan sedikit jengkel. Dengan gaya protes, ia berdiri kemudian berlalu meninggalkan ruangan. * * * Demikianlah Nurrasyid yang akrab kami panggil K’Dian. Beliau tak punya sifat yang pelik. Hanya saja sikap dan tindakannya terkadang cepat berubah. Mungkin karena pengaruh zodiaknya yang berada pada naungan Gemini. Jiwanya agak sensitif namun ramah, murah senyum, humoris, mudah simpati pada wanita cantik, suka membantu dan menolong orang lain, pemaaf dan tidak suka dendam, juga senang pada suasana dan perubahan-perubahan baru. Merayu...? Itulah satu-satu hobbinya yang masih berada pada puncak papan paling atas meski ia sering gagal jika rayuannya itu ditujukan pada mahluk bernama wanita. Entah mengapa, padahal ia sendiri sering menyadari keberadaannya yang sudah terlalu tua untuk mendekap sepi. Celakanya, acap kali ia mencoba seketika itu pun gagal. Tapi sudahlah. Baginya itu kini tak jadi soal. Aku juga malas memikirkannya, entah mengapa. Saya harap anda tidak mengatakannya pada siapa pun juga tentang hal ini. Dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya, dia itu orangnya cepplas-cepplos tapi polos. Any where any time. Kapan dan dimana saja. Pokoknya, cepplas-cepplosnya dahsyat abizzz!. Namun disaat ia berlalu meninggalkan ruangan itu yang kemudian disusul oleh pimpronya, Badarauddin amir yang pantang menyerah, semua tiba-tiba berubah. Semua sifat-sifat itu seakan terlepas dan tidak lagi melekat pada dirinya. Mulutnya yang cepplas cepplos penuh kepolosan kini bungkam tertutup rapat. Kejengkelan yang telah bercokol di kepalanya bertaut diantara senyum sinisnya. Darahnya yang mendidih hingga ke ubun-ubun turut menyertai langkah kakinya saat menuruni anak tangga gedung itu satu persatu. Perlahan pupil matanya mulai mengecil. Pandangannya nanap menatap kosong pada sebuah titik yang teramat jauh. Goresan-goresan warna kulit wajahnya yang sawo dipaksa matang semakin terlihat jelas memperkuat karakter kemarahannya. Tiba-tiba ia mendengus kencang menghempaskan nafas. Gigi gerahamnya merapat tegang. Ia mulai nampak garang. Dan ..... “Buuukh!” Tinjunya melayang menghantam tembok, suaranya nyaris bersamaan dengan pekiknya yang lantang : “Taik Kucciiing...!!!”. “Buuukh!” Sekali lagi tinjunya melayang. Kali ini tinjunya menghantam tiang beton yang berada di samping anak-anak tangga saat tubuhnya akan hilang ditelan tikungan anak tangga terakhir. Pimpronya, Badaruddin Amir yang pantang menyerah, terkejut. Ia menghentikan langkah. “Kau kenapa? Ada apa? Tanyanya. “Aku muak dengan birokrasi macam ini. Segalanya harus bapak Bupati. Jika pak Bupati tidak ada, tidak ada yang jadi. Ini..., Ini gaya kepemimpinan macam apa? Pak Anwar selaku Ketua Panitia Lokal kapasitasnya seperti apa? Tugas dan tanggung jawabnya bagaimana? Ruang lingkup dan batasan kebijakannya dimana? Dasar bodoh! Semua hanya menggunakan manajemen kaku. Bego dipelihara. Primordialisme diternak. Dasarrr, Jerangkong feodalis!!!”. Ungkapan kemarahan K’Dian tak tertahankan, urat lehernya tegang. “Kamu ini lagi marah apa kerasukan iblis betina?”. Tanya Pimpronya. “Terserah mau dibilang apa!” “Lantas, apa hubungan kemarahanmu dengan tonjokan pada tembok?” “Anggap saja yang kutonjok birokrat mereka. Kebodohan mereka. Kalau perlu kepala mereka. Mereka memang keras kepala. Mereka bukan lagi kepala batu, tapi kepala besi! Dasar keparat! Mampus saja sekalian!”. Pimpronya, Badaruddin Amir yang pantang menyerah, yang tadi terkejut jadi merasa geli mendengar cerocoh K’Dian. Apalagi disaat melihat raut wajahnya yang sudah merah agak kecoklat-coklatan persis kepiting rebus, tawanya tak dapat lagi ditahankan dan ia pun tertawa terpingkal-pingkal. Ada tiga sampai empat kali tarikan nafas barulah tawa itu meredah. Disela tawanya yang hampir meredah, Pimpronya, Badaruddin Amir yang pantang menyerah, mendekati sembari menepuk pundaknya. “Sudahlah, kau jangan terlalu emosional begitu. Lagi pula, mengapa sikap emosionalmu tidak kau lampiaskan saat perbincangan lepas tadi? Tapi sudahlah, saya pikir kita masih punya banyak cara menggolkan proposal kita”. Pimpronya, Badaruddin Amir yang pantang menyerah, mencoba menentramkan jiwa K’Dian yang masih kalut. Ia memberikan proposal yang enggan ditanda tangani oleh Pak Anwar. Dalam tubuh birokrat, seorang terkadang bertindak seperti robot yang remotnya dikendalikan oleh atasan. Seperti itulah type kepemimpinan Pak Anwar di mata K’Dian. Sembari berjalan, K’Dian terus saja bercerocoh dengan gerakan tangan kanan yang naik turun, jari-jarinya melebar renggang dan tegang. Langkahnya terus terseret lunglai pergi meninggalkan gedung bersama pimpronya. Badaruddin amir yang pantang menyerah. Ketika hampir tiba di Panti Asuhan tempat tinggalnya, dikejauhan nampak anak-anak pantinya dengan tubuh kurus dekil menyambutnya dengan senyum dan tatapan berbinar menyimpan harapan. Terlintas di kepala K’Dian proposal bantuan dana konsumsi untuk anak-anak pantinya yang juga telah diajukan tiga hari lalu. Dan dengan jelas sekali tergambar dalam bayangan imajinasinya, proposal panti asuhan itu berada di bawah tumpukan proposal-proposal kolosal kegiatan Festival dan Seminar Internasional La Galigo yang belum tersentuh bapak Bupati. Dengan wajah lesu K’Dian menunduk, beberapa butir air matanya jatuh menetes membasahi permukaan proposalnya. Barru, 10 Maret 2002 1. PROPOSAL colossal Loose conversation that happens when the time is shown at 10 through fifteen minutes of Eastern Indonesia. Indonesia part time Barru. That means, 15 minutes was the time elapsed to make it more formal talks as planned. Doctoral mother Nurhayati Emhum activities as Chairman of the Central Committee of the Festival and the International Seminar "La Galigo" who arrived from Makassar fifteen minutes ago increasingly can no longer hide the expression of anxiety and agitation. Her hair was allowed to decompose to the extent of the shoulder down over his face was deathly pale as he glanced at his watch. In almost the same time re-looked, there were footsteps Mr. Chairman Local Organizing Committee entered the room. Nurhayati mother impatient with the presence of the father immediately asked that Regents have long awaited. "Regent where, why did he not come? I've got an appointment right here at 10. He should confirm back if the meeting is not so. I am tired suda came from Makassar. I have a lot of wasted time! ". Mom snapped Nurhayati. Drs. H. A. Aksa Anwar as Chairman of the Local Organizing Committee did not directly answer the question. It was only when he answered his back pressed against the seat guests on the 2nd floor of the regent's office building. A magnificent palace, symbol of pride and arrogance. "He is currently attending the meeting. Hand phonenya deactivated it was difficult to be reached ". Mr. Anwar said while occasionally wiping the sweat that dripped on the forehead and temples. "What if later, upon completion of Friday prayers?" Mr. Anwar tried to offer. "Where," asked the mother Nurhayati "In the home office!" "In the home office?" "Yes, at the home office. Ba'da Friday ". Mr. Anwar said. Place the newly offered Mr. Anwar seemed to lock the meeting. There was a moment so quiet. Nurhayati mother seemed to be thinking about something. He seems quiet with little forehead wrinkled. Badaruddin Amir and Nurrasyid who attended the talks off the mouth of the model at each other with almost the same form letter "O". Both seemed unable to accept the offer before the proposal is no certainty that Pancana Sun drama performances will be submitted to the ACC. "Oh, yes ma'am. What about the proposal package show our art? "Said Amir dismantle Badaruddin silence while thrusting the proposal. "Oh, yes. Take a look ". Nurhayati mother received a proposal offered by Badaruddin Amir, and then sign it. Finish signing Nurhayati mother then handed to Mr. Anwar for signing anyway. But the proposal was not yet touched, Mr. Anwar has already rejected. He seemed to look nervous. "E. .. sorry!. I can not sign it if the father of Regents does not exist. Said Mr. Anwar.” "It is already known because the father of Regents direkomindir us directly by the central committee chairman. In this case the mother Nurhayati. And I think the mother Nurhayati also been confirmed directly to him. So stay in perhadapkan only on the father for the sign ". Answer Badaruddin pack with convincing tone. "E. ... sorry. Again, I apologize. I do not dare. "Said Mr. Anwar, raising his hands. Nurrasyid are just quiet conversation while a loyal listener was getting annoyed and a little annoyed. With the style of protest, he stood and left the room. * * * Thus we call a familiar Nurrasyid K'Dian. He did not have a complicated nature. It's just the attitude and actions, sometimes rapidly changing. Perhaps because of the influence which is in shade zodiac Gemini. His soul is rather sensitive but friendly, smiling, humorous, easy sympathy for a beautiful woman, likes to help and helping others, forgiving and do not like revenge, is also delighted at the atmosphere and the new changes. Woo ...? That's the one hobbinya who are still at the height of the top board even though he often fails if rayuannya was aimed at the creature called woman. Somehow, even though he himself was often aware of its existence is already too old to embrace quiet. Unfortunately, often times he tried once too failed. But never mind. To him it does not matter now. I'm too lazy to think about it, somehow. I hope you did not tell anyone about this. And one more not less important, he was one cepplas-cepplos but plain. Any where any time. Anytime and anywhere. Anyway, great cepplosnya cepplas-abizzz!. But when he passed from the room which was then followed by pimpronya, Badarauddin amir who never gave up, all of a sudden changed. All those traits seemed to come loose and no longer attached to him. His mouth is full of innocence cepplas cepplos silent now closed. Aggravation that has been entrenched in the head linking between cynical smile. His blood is boiling down to the fontanel also accompany his steps down the stairs when the building one by one. Slowly her pupils began to shrink. NANAP gaze blankly at a distant speck. Scratches his face dark brown skin color forced to mature more and more apparent to strengthen the character of his anger. Suddenly he threw loud snorts of breath. Molar teeth docked tense. He began to look fierce. And.... "Buuukh!" Flying fist hit the wall, his voice almost simultaneously with that he cried aloud: "Taik Kucciiing ...!!!". "Buuukh!" Again his fists flying. This time his fist hit the concrete pillar that is next to the stairs when his body will be lost to bend the ladder. Pimpronya, Badaruddin Amir who never gave up, startled. He stopped walking. "What happened to you? What is it? He asked. "I'm fed up with this kind of bureaucracy. Everything must be the father of Regents. If a pack of Regents does not exist, nothing is finished. This is ..., It's what kind of leadership style? Mr. Anwar as Chairman of the Local Organizing Committee as to what capacity? Duties and responsibilities how? The scope and limits of discretion where? Idiot! All uses only rigid management. Stupid maintained. Primordialism bred. Dasarrr, Jerangkong feudalistic !!!". K'Dian unbearable anger expression, strained his neck veins. "What are you more angry with a female demon possessed?". Tanya Pimpronya. "Want to say what's up!" "So, what is the relationship with a punch in the wall of your anger?" "Let's just say that kutonjok their bureaucrats. Their ignorance. If I need their heads. They are stubborn. They are no longer the head stone, but metal heads! Bastard! You die just as well! ". Pimpronya, Badaruddin Amir who never gave up, who was surprised to be amused to hear cerocoh K'Dian. Especially in times saw the look on his face was red just a little brown crab boil, laughter can no longer be born and he was laughing so hard. There are three to four times a breath before it died meredah. Was interrupted by laughter that almost meredah, Pimpronya, Badaruddin Amir who never gave up, patted his shoulder as he approached. "Come on, you do not get too emotional so. After all, why do not you vent your emotional attitude during the conversation off again? But never mind, I think we still have plenty of ways to pass our proposals ". Pimpronya, Badaruddin Amir who never gave up, tried to pacify the soul K'Dian still frantic. He gave a reluctant proposal was signed by Mr. Anwar. In the body of bureaucrats, sometimes acting like a robot remotnya controlled by superiors. That's the type of leadership Mr. Anwar in the eyes K'Dian. As he walked, kept K'Dian bercerocoh with right-hand movement up and down, fingers spread tenuous and tense. The steps continue to be dragged limply left the building with pimpronya. Badaruddin amir who never gave up. When almost at the orphanage where he lived, seemed distant pantinya children with dirty skinny body greeted with smiles and sparkling eyes keep hope. Springs to mind K'Dian proposal to help fund children's consumption pantinya who also has filed three days ago. And very clearly illustrated in the shadow of his imagination, the proposal was in an orphanage under a pile of proposals colossal Festival activities and the International Seminar La Galigo untouched father of Regents. With sluggish K'Dian face down, a few grains of tears dripping down the surface of the proposals. Barru, March 10, 2002

ATAS SEBUAH PERTANYAAN

Senyum tulus terukir Dalam foto hitam putih terbingkai Satu-satunya kenangan engkau tinggalkan Cerita jenaka dari sanak Jerit pilu perjalanan duka tutur ibunda Derita sakit mengorogoti nafasmu Hingga ajal menjemput diwaktu shalat subuh Bagai rentetan cerita dari negeri seberang Dan di sini Kutelusuri jejak bayangmu Dalam ingatan sang balita ketika engkau pergi Demi sebuah jawaban atas pertanyaan cucumu, ayah Pekkae, 8-12 -2009

SURAT PASIEN BANDEL By: Dian Al-Pomalaa

Di luar cahaya masih bersinar lemah. Beberapa fokusnya melintas menerobos jendela kaca, menyeruak masuk hingga relung jiwaku, membaur bersama sebersit rindu yang tersisa kemarin. Sebuah tikaman asmara kerinduan yang tercipta di antara ego dan bentakan kejengkelan suster yang telah meneteskan air mata kepedihan karena harkatnya yang tercampakkan. Yah, sebuah kerinduan kasih sayang yang tulus ikhlas dari naluri kepedulian seorang wanita, dari seorang suster yang rela menghabiskan waktu untuk memberikan bantuan perhatian dan perawatan. Dan itu justeru terjadi di saat-saat aku sangat membutuhkannya. Di saat aku berada dalam kondisi lemah tiada berdaya. Aku memang nyaris kehilangan perhatian dan kasih sayang, tepatnya di saat aku berpisah dengan ibundaku tercinta 12 tahun yang lalu. Hingga kini, ibunda tercinta masih di kampung halaman sementara aku di perantauan. Dan aku terpisah hanya karena sebuah cita-cita yang terlanjur kugambar dalam bayang imajinasi, dalam mimpi yang tergantung kaku. Itu pun masih samar, laksana sketsa yang belum selesai untuk menjadi sebuah lukisan terbingkai rapi. Masih teramat samar!. Pagi itu pagi yang indah. Namun aku tak dapat bergeming dari tempatku. Aku duduk diam terpaku di bibir difanku yang membisu, menatap kosong pada tetesan-tetesan air yang jatuh lunglai dari infus di lenganku. Masih jelas membekas dibenakku, raut wajah keikhlasan suster-suster yang merawatku kemarin. Masih terngian dikesunyianku bentakan dan tutur kata yang terderet lewat bibir mereka yang merekah, yang sesungguhnya kesemua itu adalah wujud nyata dari sebuah kepedulian, perhatian dan kasih sayang. Tapi..., mengapa aku tiada mampu menangkap sinyal perhatian kasih sayang itu. Mengapa? Mengapa justeru aku begitu emosional menanggapi bentakan-bentakannya yang menyuruhku tidur, istirahat dan berbaring. Mengapa aku tiba-tiba begitu sensitif hingga semua instruksinya nyaris kubalas dengan tamparan lenganku yang masih digantungi botolan infus?? Akh... Aku memang manusia biadab. Manusia yang tiada mengerti belas kasih. Perlahan bibirku bergetar lalu terkatup rapat seiring dengan jatuhnya butiran hangat dari kedua kelopak mataku yang mulai nanar. Mengenang peristiwa itu, dunia terasa sepi dan sunyi. Kegamangan seolah menyelimuti seluruh panca indraku. Entah kemana, dan kepada siapa aku harus melabuhkan nestapa ini. Tiada terasa, bathinku terhempas ke dalam nuansa kosong yang menyayat pilu menikam kalbu. Dan...., saat tangis kehampaan itu mulai pecah, seseorang telah datang menghampiriku. "Selamat pagi" "Pagi" jawabku lemah sambil perlahan memalingkan wajah ke sumber suara . "Bagaimana kabar saudara hari ini, apakah ada perubahan?" Tanyanya yang ternyata Dokter Halim Latif, Direktur Rumah Sakit Umum tempatku dirawat. Aku hanya diam tak menjawab. Tatapan lesuku terbentur pada dua sosok wanita yang berkostum perawat berdiri tepat di belakangnya. Seorang dari mereka memegang baki yang berisikan obat serta perlengkapan medis. Dan seorang lagi memegang lembaran catatan yang terjepit rapi pada sebuah papan pengalas. Keduanya perlahan menunduk saat sorot mataku terfokus tajam menyapa kedua pupil matanya yang bening dan lembut. Sebening embun selembut salju. “ Saya dengar laporan dari suster kemarin katanya anda mau keluar, kenapa?” Tanya Dokter Halim sambil merapatkan statesko meter pada jantung dan paru-paruku. "Yap!" jawabku mantap sembari memandang lirih wajah Dokter Halim. "Tapi, kondisi anda masih kritis. Ini data hasil pemeriksaannya." Dokter Halim menyerahkan lembaran-lembaran kertas yang telah terprint rapi lalu kembali menjelaskan tentang penyakit yang kuderita. Aku hanya sesaat menatap lembaran-lembaran itu lalu dengan mata yang kupicingkan, aku mencermati setiap kata yang ia ucapkan. "Penyakit anda komplikasi dan masuk kategori stadium Tiga. Penyakit maag kronis Anda kembali kambuh. Di samping itu, anda positif mengidap penyakit typus, paru-paru basah dan kotor, lambung juga tergores. Di dalam otak bagian belakang ada darah yang membeku meski bukan tumor dan tidak berbahaya tetapi tetap harus dicairkan lalu dibersihkan. Sekitar 100 sampai 200 cc ada cairan berwarna kekuning-kuningan menggumpal menghalangi detak jantung anda dan itu harus disedot, tensi darah anda juga kurang cuma 90 / 80 . Trombosit anda......." "Cukup, Dok. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Saya lebih tahu tentang penyakit saya. Karena saya yang merasakannya. Tidak selamanya Pak Dokter lebih tahu ketimbang saya yang merasakannya, bukan? Saya ini cuma kecapean dan sering seharian tidak makan! Setelah tiga hari dirawat di sini, saya sudah merasa agak baikan" "Tapi ini data akurat yang kami miliki tentang kesehatan anda. Kepala anda telah kami komputer, jantung dan paru-paru telah kami rountagen, sampel darah dan air kemihnya juga telah kami periksa di laboratorium. Semua jelas terurai pada lembaran laporan ini. Setidaknya kami harus merawat anda selama sebulan ". Jawab Dokter Halim dengan nada kesal bercampur kecewa. Mungkin dia merasa hasil kerja kerasnya bersama dokter dan suster lainnya, yang tentunya juga melibatkan tekhnologi kesehatan yang super canggih saat aku terkapar tak sadarkan diri dua hari lalu, tak dihargai dan tak punya arti apa-apa di hadapanku. Di hadapan seorang pasien bandel!. "Pokoknya hari ini saya harus keluar!" kataku lambat namun tegas. Sesaat Dokter Halim terbungkam, dahinya berkerut dan nampak berfikir keras. Mungkin baru ini kali ia diperhadapkan pada sosok pasien yang keras kepala seperti aku. Sosok pasien bandel!. "Maaf, kami tak bisa membiarkan anda keluar dengan kondisi kesehatan seperti sekarang ini. Resiko kami selaku orang yang diikat oleh aturan Ikatan Dokter Indonesia, terlalu berat untuk kami terima bilamana mengeluarkan pasien dengan kondisi kesehatan yang masih parah, apalagi tanpa disertai rujukan. Maaf, sekali lagi maaf, kami tak ingin melanggar kode etik profesi kami." Spontan dahiku ikut berkerut mendengarkan ucapan Dokter Halim. Mataku menyipit dan memandang tajam, menembus bola matanya. "Pak Dokter! Bapak Dokter tidak mengeluarkan saya, saya yang minta dikeluarkan. Bapak Dokter harus paham itu!!" Aku membentak Dokter Halim yang mencoba menahanku. . "Saya paham, sangat paham! Tapi kalau Anda bersikeras tidak ada masalah, asal anda bersedia menandatangani surat pernyataan pasien serta menanggung semua resiko yang ditimbulkannya". "Maksud Pak Dokter?" Tanyaku penuh selidik. "Anda akan tahu setelah membaca surat pernyataannya" "Oke, why not. Gitu aja kok repot!" "Baik, baik..., tunggu sebentar!" Jawab Dokter Halim sambil berlalu dengan wajah yang hampir tak bisa menahan emosi. Di antara kegalauan dan kehampaan, ternyata egoku masih saja kokoh dalam tembok idealisme. Padahal tak dapat kupungkiri bahwa masih tersisakan sesuatu yang prinsipil terenggut dari terdalam bathinku. Tapi..., baiklah! Bagiku tak jadi soal. Semua akan kujelaskan nanti di atas secarik kertas ini, biar Bapak Dokter dan semua suster yang merawatku tahu, apa yang sesungguhnya bergejolak di dalam bhatinku, bhatin seorang pasien yang terpaksa bandel. Perlahan aku mengeluarkan secarik kertas dari binder Diaryku lalu menghunus pulpen bertinta merah yang masih bergayut di saku baju. Namun belum lagi aku sempat menancapkannya, sahabatku Andi Pananrang, -namanya biasa kusingkat Andipa- datang membesuk. Ia menatapku dengan senyuman khasnya saat melangkah memasuki kamar. Sebuah senyuman yang mampu menentramkan jiwa, jiwa seorang pasien yang terpaksa harus bandel. Tanpa menanggalkan senyumnya yang masih bertengger tepat di bawah tatapan ramahnya, ia langsung menjabat tanganku dan menanyakan keadaanku. Aku sedikit heran melihat kedatangannya yang tiba-tiba itu. "Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyanya sambil meletakkan sebuah bungkisan di atas meja. Entah isinya apa. "Yah, Alhamdulillah sedikit agak membaik. Kok bisa tau kalau aku lagi trible dan dirawat di sini?" Tanyaku sambil menyimpan kembali pulpen dan kertas yang sudah siap kuhujamkan dengan untaian kata maaf, puisi cinta, dan mungkin sepenggal sejarah perjalanan hidup seorang pasien yang terlanjur dicap bandel. "Mungkin kamu tidak tahu kalau aku yang membawamu kemari saat menemukanmu tergolek lemah di dalam kamar santri putra. Aku hanya sempat menitip sedikit catatan kecil tentang identitasmu pada rekanku yang tugas di Unit Gawat Darurat. Lalu kemudian meninggalkanmu karena aku hampir telat ke bandara untuk menuju Biak. Tadi pagi aku baru tiba kembali, dan langsung menuju kemari." Aku mendesis menyebut "ow" dengan mulut sedikit monyong. Aku sadar kalau peristiwa kemarin yang membuat telapak tanganku nyaris mendarat di pipi suster yang membentakku sekaligus merawatku, menyudutkan dirinya sebagai seorang sahabat. "Jadi, kamu toh yang membawaku kemari. Kenapa tidak titip pesan sekalian bahwa kamu yang mengantarku. Aku jadi merasa tidak enak dan diliputi perasaan bersalah karena secara tidak langsung ikut menyeretmu pada persoalan yang kemarin kuperbuat. Tapi, tak apalah. Semua nanti kujelaskan. Sebelumya saya minta maaf. Dan terima kasih atas segala bantuanmu. Aku jadi membuatmu repot!" "Tidak apa-apa. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai sahabat, sebagai orang yang telah kau anggap saudara. Lagi pula tidak perlu dijelaskan, tadi aku sudah bertemu dengan Dokter Halim. Ia telah menjelaskan segalanya. Beberapa orang suster magang yang juga merawatmu telah menceritakan peristiwa yang terjadi kemarin. Mereka memang nampak sedih dan trouma berhadapan dengan pasien." "Dengan semua pasien?" Potongku sedikit penasaran. "Mungkin. Atau mungkin juga cuma dengan kamu saja. Tapi saya pikir ini hanya kesalahpahaman. Tidak perlu dibahas, apa lagi dibesar-besarkan. Oh iya, apa betul sudah merasa baikan?" Tanya Andipa sembari melayangkan pandangannya pada botolan infus yang tergantung, pada obat-obatan yang berserakan di atas meja, lalu pada mata dan pangkal hidungku, seolah mencari sebuah kepastian dari ungkapan kejujuran tentang kondisi kesehatanku. "Entahlah! Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan kondisiku. Yang aku pikirkan bagaimana aku bisa keluar secepatnya dari sini. Kamu sendiri kan tahu kalau Festival dan Seminar Internasional Lagaligo yang akan dihadiri oleh utusan dari dua belas negara itu tinggal tiga hari lagi, sementara tugasku banyak yang belum aku tuntaskan". Jawabku dengan tatapan menerawang. "Kalau boleh saya sarankan, mundurlah saja dari kepanitiaan itu. Apalagi selaku Stage Manager. Saat sekarang ini kondisi kesehatanmu jauh lebih penting dan lebih berharga dari segalanya. Luangkanlah sedikit waktu untuk berbuat baik terhadap diri sendiri, demi kesehatan. Saya tahu jadi orang penting itu baik, tapi jadi orang baik menurutku jauh lebih penting". Tatapanku yang menerawang semakin tertuju pada satu titik fokus yang teramat jauh. Kata terakhir diucapkan Andipa membuat jantungku berdebar. Di dalam hati sekali lagi aku mengulangi kata-kata itu: 'Jadi orang penting itu baik, tapi jadi orang baik itu jauh lebih penting!'. Perlahan aku menunduk dengan mata nyaris berkaca-kaca. Sesaat aku terhenyak lalu menghela nafas panjang yang terasa begitu sesak. "Oh, iya. Sudah minum obat?" Tanya Andipa basa-basi, seolah ingin membuyarkan semua pikiran berat di kepalaku. Aku diam tidak menjawab, seolah ingin membuktikan bahwa pertanyaan basa-basi itu tidak mampu menggoyahkan apa yang ada di kepalaku. "Suster Tina, Hera, Mbak Tri, dan Nitha adalah mahasiswi kedokteran yang sedang tugas PKL dan berstatus magang. Hampir setiap hari mereka dinas di rumah sakit ini. Mereka semua, maksudku sebelumnya, tidak pernah berhadapan dengan situasi dan kondisi seperti ini. Pemahaman mereka tentang pasien yang beragam masih kurang dan masih sebatas tinjauan teoritis. Selebihnya mereka hanya memiliki semangat dan nyali yang besar untuk membantu sesama. Jadi, kepekaan mereka terhadap kondisi psikis pasien terkadang lupa mereka cermati. Yah... Mungkin semangatnya yang berkobar itu telah mengalahkan segalanya." Terang Andipa mengalihkan pembicaraan. Ia sepertinya sudah membaca apa yang ada dipikiranku. Aku pun jadi terpancing dan tertarik untuk merespon. "Kok kamu bisa tahu banyak tentang mereka, apa mereka juga adalah bagian dari titipanmu untuk merawatku?" Tanyaku sedikit espekulasi namun penuh antusias. "Ah, kamu bisa saja. Saya mengenal mereka baru dua minggu yang lalu ketika mereka mengadakan seminar program kerja bersama antar institusi di Gedung Bola Soba'e." "Terus, yang tinggi putih dan berjilbab itu namanya siapa?" Tanyaku tidak sabaran. "Agak gemuk?" Andipa balik bertanya. "Bukan. Dia agak langsing jika enggan dikatakan kurus" Jelasku. "Owhh, Itu namanya Tina. Dia dari Akademi Kesehatan Lingkungan. Dia yang menyuruhmu tidur dan istirahat dengan nada sedikit membentak. Karna saat masuk memeriksa sirkulasi udara kamar, ia melihatmu merokok dan puntungnya banyak berserakan di lantai, ia amat kesal. Kalau yang agak gemuk itu namanya Mba Tri, ia dari Akademi Kebidanan, dia yang mentensi darahmu. Yang agak kecil dan hitam manis itu namanya Hera, dia dari Akademi Keperawatan. Katanya, dia paling sering keluar masuk kamarmu mengantar obat dan memeriksa cairan infusmu. Sebenarnya dia juga sedikit kesal karena setiap kali masuk ia pasti menemukan banyak pembesukmu yang bermain gitar, kecapi, dan recorder, seperti sebuah grup orkestra yang tampil di gedung kesenian. Dan kalau di tegur mereka hanya tersenyum seolah melecehkan. Mereka tidak sadar kalau di kamar tetangga sebelah ada seorang pasien yang sedang berjuang di antara hidup dan mati karena penyakit Tetanus akut yang diderita Sekali lagi, aku menghela nafas panjang yang begitu terasa semakin menyesakkan. Kembali aku terperangkap ke dalam perasaan bersalah yang mendera bhatin. Aku konsentrasi lalu mengatur pernapasan, mencoba menenangkan suasana jiwa yang semakin terhakimi oleh nuraniku sendiri. Tapi aku gagal. Kesedihan yang telah bercampur kegamangan telah menguasai diriku. Perlahan aku menggeser dan berusaha merebahkan tubuh untuk berbaring, dengan tanggap Andipa cepat membantu meluruskan punggungku. "Boleh aku ditinggalkan sendirian?" Tanyaku pada Andipa dengan nada harap. "Iyah, iyah. Istirahatlah!" Jawab Andipa sambil merapikan selimut yang hanya membungkus sebahagian tubuhku. "Sebentar aku balik ke sini lagi. Aku akan urus dulu Administrasi Pengobatan dan pemeriksaannya. Kalau kau butuh sesuatu, miscol saja handphoneku biar aku yang menelponmu, Oke?!" Lanjutnya sembari menaikkan kedua alisnya dengan cepat. Aku mengangguk mengiyakan. Sesaat kemudian Andipa pun pergi dan berlalu dari pandanganku. "Wouw...., Saatnya bereaksi!. Ternyata, dalam kondisi seperti ini aku masih saja bisa beracting dengan sempurna" Gumamku dalam hati. Aku mengekspresikan senyum kemerdekaan yang kupaksa bentuk di atas permukaan wajah pucat pasiku. Dengan berusaha menahan rasa sakit, aku bangkit dan duduk bersandar pada dinding tembok di samping difanku. Aku tidak tahu, apakah ini benar-benar sebuah Acting atau bukan. Atau hanya sekedar upayaku saja untuk menghibur diri...? Yah, Entahlah! Yang jelas aku harus segera menulis surat untuk suster-suster itu, Titik!. Aku merasa lega saat cerita ini usai kutulis dalam bentuk surat. Aku lalu menyimpannya di bawah kasur, tepat di samping obat-obatan yang berserakan yang sengaja kusembunyi. Alasannya sederhana, biar dianggap rajin minum obat. Sesaat aku pun larut membayangkan satu persatu wajah-wajah suster itu membaca cerita yang tertuang dalam surat ini. Apalagi di'.......? Sebenarnya, aku tetap berharap cerita ini dapat aku teruskan sebelum segala mimpi buruk itu jadi kenyataan. Aku memang nyaris tidak bisa lagi berharap banyak akan tejadi mimpi-mimpi indah dalam sejarah pengembaraan panjang perjalanan hidupku. Bukannya aku putus asa, tapi kenyataan hiduplah yang terlanjur mengantarku hingga tepat di gerbang keputusasaan yang dalam dan curam. Mungkin hanya ini yang dapat aku tuliskan pada penantian episode ini. Thanks So Much! Si Pasien Bandel, Dian

DIPENGHUJUNG BULAN SEPTEMBER

Senin  malam di penghujung  bulan September, tepatnya 30 September 2013.  Sejenak Gerakan 30 S PKI melintas di benak lalu hilang bersama suara perut keroncongan menyapa.  Malam itu kami  barusan saja tiba di air port  internasional  soekarno  hatta  perjalanan dari tanah minang kota padang sumatra barat. Di sana kami baru saja usai menyelesaikan hajatan besar organisasi kami sebagai  organisasi pencetak generasi mumpuni. KONPIWIL  IPM ke XIX, itulah nama hajatan  besar kami. Sebuah  pertemuan antar Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah se Indonesia  (baca : pertemuan aktivis pelajar  Muhammdiyah  se Indonesia),  untuk mengevaluasi  arah gerakan organisasi  dan dinamika pelajar demi  kejayaan bangsa dan agama.  
Perjalanan  yang cukup melehkan itu membuat kami harus mencari tempat istirahat sekaligus mencari pengisi kampong tengah, tentunya tempat yang sederhana sesuai dengan isi kantong ala Pelajar.  Bukan tempat  yang  mewah ala sebahagian pejabat  yang menurut aturan mereka buat dan sepakati  sendiri  5,2 juta sekali study banding sudah menjadi kewajiban bagi setiap anggota dewan kita yang terhormat - (baca ; di Koran harian Fajar edisi 3 oktober 2013 hal. 24 “Mengeruk Uang Negara Dari Perjalanan Dinas“). Yang membuat kami terkadang mengumpat sembari mendendangkan kidung sumpah serapah, Durhaka Tujuh Turunan”. Dari dalam hati, suara  seolah tak henti menjerit melihat  realitas tanah air.

Malam itu kami mencari tempat makan yang sesederhana mungkin sekali lagi yang  bisa  terjangkau  oleh  kantong  pelajar. Setiap memasuki warung di bandara kami Harus bertanya dulu berapa harganya?? Kalau tidak cocok harganya kami pindah,  tidak cocok harganya yah... pindah lagi. Soal cocok tidaknya dengan makanannya itu soal kedua.
Akhirnya  kami  menemukan warung yang  menurut kami itu sudah pas dengan uang yang kami kantongi. Mie bakso 30 ribu. Masih lebih mending ketimbang warung lainnya. Setelah menghitung-hitung uang dan seterusnya, menimbang-nimbang untung rugi dan seterusnya, kayaknya inilah yang paling murah. Akhirnya kami memutuskan lalu menetapkan untuk segera melepaskan lapar dan lelah di warung itu. Maaf jika konsideran keputusan KONPIWIL masih mewarnai pengambilan keputusan tindakan kami.

Sembari menunggu pesanan, kami Bercanda tawa menghibur diri agar terlupakan lelah dan harga mie baksonya. Setelah lama Menunggu saya kemudian melihat sosok yang tak asing lagi bagiku di sudut warung itu. Alhamdulillah ucapku dalam hati, kayaknya yang di sana itu adalah orang nomor satu di Daerah saya. Ya, itu bapak Bupati Barru Sulawesi Selatan H. Idris Syukur, gumamku dalam hati.
 Tetapi saya masih bertanya Tanya apa iya?? Bupati kok di tempat sesederhana ini yah...?? Dan tak ada juga kelihatan pengawal pribadi yang berbadan kekar ala kebanyakan orang terkenal di Negeri ini??  Kali ini saya harus memberanikan diri untuk mendekati dan menyapa langsung.
Assalamu Alaikum  Puang sambil menjulurkan tangan untuk salaman, Wa’alaikummussalam MagaiTuNdi’  (sapaan keakraban dalam tradisi bugis) ??. Saya lalu memperkenalkan diri saya,  Elly Oschar Puang. Saya dari Barru. Ow...dari mana?? Kenapa ada di sini? Saya dari padang sumatera barat ada pertemuan Pelajar Muhammadiyah se Indonesia di sana, Alhamdulillah kami enam orang,  sambil menunjuk teman temanku,  mewakili Sulawesi Selatan.  Apa namanya?? KONPIWIL  IPM,  Puang. Acara apa itu??  Konfrensi Pimpinan  Wilayah IPM Se Indonesia. Ow... Ikatan Pelajar Muhammadiyah dich?? Iye Puang. Saya itu pernah ketemu dengan ketua  muhammadiyah  Sulawesi Selatan di acara milad Muhammadiyah di Barru. Saya sudah banyak membantu sekolah-sekolah Muhammadiyah di Barru. Seperti sekolah muhammadiyah di Takkalasi dan Padaelo. Di manaki tinggal di barrundi’?? Di padaelo Puang. Siapa namanya bapakmu??  Sayyed Ruslan Abdullah Puang. Yang ketua PKS Barru itu?? Iye Puang. Sekaligus calon legislatif di Dapil 3, mohon doa restu dan dukungan’ta puang. Beliau itu bapak angkat saya, saya lahir di sinjai  tetapi diambil oleh Pak Ruslan dan di sekolahkan di Barru, beliau juga yang membiayai saya sampai selesai kuliah puang. Kuliah di manaki dulundi?? Saya dulu kuliah di Unismuh  Puang,  kebetulan juga sempat diberi amanah menjabat  Presiden Mahasiswa di sana. Ow...jadi pasti kamumi itu  yang biasa demo dich?? Sambil memukul pundakku sebagai tanda keakraban. Saya tidak biasa demo puang tapi sering sambil tertawa. Hehehe... tapi itu dulu puang tidak mi sekarang,  sekarang  tinggal mengontrol pergerakan ade-ade saja, puang.  Jangan maki demo Demo lagi  berhenti makindi’,  karena nanti saya lapor itu sama paung Djalil?? Puang Djalil itu om saya. Owh..Iye’ tidak ji itu puang, saya melapor ji itu kalau mau demo di  barru.  Iya, janganmi demo2  bela, bantu  bantu saja  barru. Kita  itundi’ harus kembali mengabdi di barru karena dari  barruki juga. Iye’ puang. Insya Allah.
Waktu saya ke acara milad muhammadiyah di barru, orang nomor satu di daerah kami ini melanjutkan kisahnya,  Waktu itu saya ketemu dengan ketua  Muhammadiyah Sulawesi Selatan DR. KH. Alwiuddin. M. Ag, jadi saya dulu yang beri sambutan baru beliau dan beliau menantang saya agar saya membaca khutbah. Dan saya iyakan Insya Allah Ustadz saya akan belajar Insya Allah saya akan usahakan. Dan Alhamdulillah saya sering baca khutbah jumat sejak bulan januari tahun lalu. Itu semua karena motivasi dari  Anre Gurutta Ketua Muhammadiyah karena beliau menantang saya untuk baca khutbah dan saya tertantang dengan hal itu. Tolong sampaikan salam dan ucapan terima kasihku kebeliau kalau nanti tiba di Makassar. Iye’ Puang Insya Allah saya akan sampaikan nanti kalau rapat bersama. Setelah lama berbincang banyak hal tentang barru dan prestasinya serta harapan-harapannya. Ia memberi isyarat keasisten pribadinya untuk membayar makanan yang kami pesan.
Alhamdulillah berkurang lagi beban kami gumamku. Dan Beliau memberikan nomor kontaknya kepadaku dan berpesan kontak-kontak kalau ada masalah sambil pamitan mendahului kami. Terima kasih banyak puan salamaki.

Tak lama kemudian, terdengar pengumuman kalau penumpang pesawat lion air dengan tujuan Makassar sudah dipersilahkan naik ke pesawat melalui gate 2.  Kami lalu bergegas menuju gate 2  dengan hati gembira, sudah banyak berbincang dengan bapak Bupati ditraktir pula. Ketika memasuki pesawat lion air saya terkejut melihat Bapak Bupati juga ternyata naik pesawat lion air dan lebih herannya lagi karena beliau berada di class economi bukan di class bisnis. Ini bupati yang sederhana dan bersahaja, gumamku sembari berbangga hati.