Minggu, 06 Oktober 2013
SURAT PASIEN BANDEL By: Dian Al-Pomalaa
Di luar cahaya masih bersinar lemah. Beberapa fokusnya melintas menerobos jendela kaca, menyeruak masuk hingga relung jiwaku, membaur bersama sebersit rindu yang tersisa kemarin. Sebuah tikaman asmara kerinduan yang tercipta di antara ego dan bentakan kejengkelan suster yang telah meneteskan air mata kepedihan karena harkatnya yang tercampakkan.
Yah, sebuah kerinduan kasih sayang yang tulus ikhlas dari naluri kepedulian seorang wanita, dari seorang suster yang rela menghabiskan waktu untuk memberikan bantuan perhatian dan perawatan. Dan itu justeru terjadi di saat-saat aku sangat membutuhkannya. Di saat aku berada dalam kondisi lemah tiada berdaya.
Aku memang nyaris kehilangan perhatian dan kasih sayang, tepatnya di saat aku berpisah dengan ibundaku tercinta 12 tahun yang lalu. Hingga kini, ibunda tercinta masih di kampung halaman sementara aku di perantauan. Dan aku terpisah hanya karena sebuah cita-cita yang terlanjur kugambar dalam bayang imajinasi, dalam mimpi yang tergantung kaku. Itu pun masih samar, laksana sketsa yang belum selesai untuk menjadi sebuah lukisan terbingkai rapi. Masih teramat samar!.
Pagi itu pagi yang indah. Namun aku tak dapat bergeming dari tempatku. Aku duduk diam terpaku di bibir difanku yang membisu, menatap kosong pada tetesan-tetesan air yang jatuh lunglai dari infus di lenganku. Masih jelas membekas dibenakku, raut wajah keikhlasan suster-suster yang merawatku kemarin. Masih terngian dikesunyianku bentakan dan tutur kata yang terderet lewat bibir mereka yang merekah, yang sesungguhnya kesemua itu adalah wujud nyata dari sebuah kepedulian, perhatian dan kasih sayang. Tapi..., mengapa aku tiada mampu menangkap sinyal perhatian kasih sayang itu. Mengapa? Mengapa justeru aku begitu emosional menanggapi bentakan-bentakannya yang menyuruhku tidur, istirahat dan berbaring. Mengapa aku tiba-tiba begitu sensitif hingga semua instruksinya nyaris kubalas dengan tamparan lenganku yang masih digantungi botolan infus??
Akh... Aku memang manusia biadab. Manusia yang tiada mengerti belas kasih. Perlahan bibirku bergetar lalu terkatup rapat seiring dengan jatuhnya butiran hangat dari kedua kelopak mataku yang mulai nanar. Mengenang peristiwa itu, dunia terasa sepi dan sunyi. Kegamangan seolah menyelimuti seluruh panca indraku. Entah kemana, dan kepada siapa aku harus melabuhkan nestapa ini. Tiada terasa, bathinku terhempas ke dalam nuansa kosong yang menyayat pilu menikam kalbu. Dan...., saat tangis kehampaan itu mulai pecah, seseorang telah datang menghampiriku.
"Selamat pagi"
"Pagi" jawabku lemah sambil perlahan memalingkan wajah ke sumber suara .
"Bagaimana kabar saudara hari ini, apakah ada perubahan?" Tanyanya yang ternyata Dokter Halim Latif, Direktur Rumah Sakit Umum tempatku dirawat. Aku hanya diam tak menjawab. Tatapan lesuku terbentur pada dua sosok wanita yang berkostum perawat berdiri tepat di belakangnya. Seorang dari mereka memegang baki yang berisikan obat serta perlengkapan medis. Dan seorang lagi memegang lembaran catatan yang terjepit rapi pada sebuah papan pengalas. Keduanya perlahan menunduk saat sorot mataku terfokus tajam menyapa kedua pupil matanya yang bening dan lembut. Sebening embun selembut salju.
“ Saya dengar laporan dari suster kemarin katanya anda mau keluar, kenapa?” Tanya Dokter Halim sambil merapatkan statesko meter pada jantung dan paru-paruku.
"Yap!" jawabku mantap sembari memandang lirih wajah Dokter Halim.
"Tapi, kondisi anda masih kritis. Ini data hasil pemeriksaannya."
Dokter Halim menyerahkan lembaran-lembaran kertas yang telah terprint rapi lalu kembali menjelaskan tentang penyakit yang kuderita. Aku hanya sesaat menatap lembaran-lembaran itu lalu dengan mata yang kupicingkan, aku mencermati setiap kata yang ia ucapkan.
"Penyakit anda komplikasi dan masuk kategori stadium Tiga. Penyakit maag kronis Anda kembali kambuh. Di samping itu, anda positif mengidap penyakit typus, paru-paru basah dan kotor, lambung juga tergores. Di dalam otak bagian belakang ada darah yang membeku meski bukan tumor dan tidak berbahaya tetapi tetap harus dicairkan lalu dibersihkan. Sekitar 100 sampai 200 cc ada cairan berwarna kekuning-kuningan menggumpal menghalangi detak jantung anda dan itu harus disedot, tensi darah anda juga kurang cuma 90 / 80 . Trombosit anda......."
"Cukup, Dok. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Saya lebih tahu tentang penyakit saya. Karena saya yang merasakannya. Tidak selamanya Pak Dokter lebih tahu ketimbang saya yang merasakannya, bukan? Saya ini cuma kecapean dan sering seharian tidak makan! Setelah tiga hari dirawat di sini, saya sudah merasa agak baikan"
"Tapi ini data akurat yang kami miliki tentang kesehatan anda. Kepala anda telah kami komputer, jantung dan paru-paru telah kami rountagen, sampel darah dan air kemihnya juga telah kami periksa di laboratorium.
Semua jelas terurai pada lembaran laporan ini. Setidaknya kami harus merawat anda selama sebulan ". Jawab Dokter Halim dengan nada kesal bercampur kecewa. Mungkin dia merasa hasil kerja kerasnya bersama dokter dan suster lainnya, yang tentunya juga melibatkan tekhnologi kesehatan yang super canggih saat aku terkapar tak sadarkan diri dua hari lalu, tak dihargai dan tak punya arti apa-apa di hadapanku. Di hadapan seorang pasien bandel!.
"Pokoknya hari ini saya harus keluar!" kataku lambat namun tegas.
Sesaat Dokter Halim terbungkam, dahinya berkerut dan nampak berfikir keras. Mungkin baru ini kali ia diperhadapkan pada sosok pasien yang keras kepala seperti aku. Sosok pasien bandel!.
"Maaf, kami tak bisa membiarkan anda keluar dengan kondisi kesehatan seperti sekarang ini. Resiko kami selaku orang yang diikat oleh aturan Ikatan Dokter Indonesia, terlalu berat untuk kami terima bilamana mengeluarkan pasien dengan kondisi kesehatan yang masih parah, apalagi tanpa disertai rujukan. Maaf, sekali lagi maaf, kami tak ingin melanggar kode etik profesi kami."
Spontan dahiku ikut berkerut mendengarkan ucapan Dokter Halim. Mataku menyipit dan memandang tajam, menembus bola matanya.
"Pak Dokter! Bapak Dokter tidak mengeluarkan saya, saya yang minta dikeluarkan. Bapak Dokter harus paham itu!!" Aku membentak Dokter Halim yang mencoba menahanku. .
"Saya paham, sangat paham! Tapi kalau Anda bersikeras tidak ada masalah, asal anda bersedia menandatangani surat pernyataan pasien serta menanggung semua resiko yang ditimbulkannya".
"Maksud Pak Dokter?" Tanyaku penuh selidik.
"Anda akan tahu setelah membaca surat pernyataannya"
"Oke, why not. Gitu aja kok repot!"
"Baik, baik..., tunggu sebentar!" Jawab Dokter Halim sambil berlalu dengan wajah yang hampir tak bisa menahan emosi.
Di antara kegalauan dan kehampaan, ternyata egoku masih saja kokoh dalam tembok idealisme. Padahal tak dapat kupungkiri bahwa masih tersisakan sesuatu yang prinsipil terenggut dari terdalam bathinku. Tapi..., baiklah! Bagiku tak jadi soal. Semua akan kujelaskan nanti di atas secarik kertas ini, biar Bapak Dokter dan semua suster yang merawatku tahu, apa yang sesungguhnya bergejolak di dalam bhatinku, bhatin seorang pasien yang terpaksa bandel.
Perlahan aku mengeluarkan secarik kertas dari binder Diaryku lalu menghunus pulpen bertinta merah yang masih bergayut di saku baju. Namun belum lagi aku sempat menancapkannya, sahabatku Andi Pananrang, -namanya biasa kusingkat Andipa- datang membesuk. Ia menatapku dengan senyuman khasnya saat melangkah memasuki kamar. Sebuah senyuman yang mampu menentramkan jiwa, jiwa seorang pasien yang terpaksa harus bandel.
Tanpa menanggalkan senyumnya yang masih bertengger tepat di bawah tatapan ramahnya, ia langsung menjabat tanganku dan menanyakan keadaanku. Aku sedikit heran melihat kedatangannya yang tiba-tiba itu.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyanya sambil meletakkan sebuah bungkisan di atas meja. Entah isinya apa.
"Yah, Alhamdulillah sedikit agak membaik. Kok bisa tau kalau aku lagi trible dan dirawat di sini?" Tanyaku sambil menyimpan kembali pulpen dan kertas yang sudah siap kuhujamkan dengan untaian kata maaf, puisi cinta, dan mungkin sepenggal sejarah perjalanan hidup seorang pasien yang terlanjur dicap bandel.
"Mungkin kamu tidak tahu kalau aku yang membawamu kemari saat menemukanmu tergolek lemah di dalam kamar santri putra. Aku hanya sempat menitip sedikit catatan kecil tentang identitasmu pada rekanku yang tugas di Unit Gawat Darurat. Lalu kemudian meninggalkanmu karena aku hampir telat ke bandara untuk menuju Biak. Tadi pagi aku baru tiba kembali, dan langsung menuju kemari."
Aku mendesis menyebut "ow" dengan mulut sedikit monyong. Aku sadar kalau peristiwa kemarin yang membuat telapak tanganku nyaris mendarat di pipi suster yang membentakku sekaligus merawatku, menyudutkan dirinya sebagai seorang sahabat.
"Jadi, kamu toh yang membawaku kemari. Kenapa tidak titip pesan sekalian bahwa kamu yang mengantarku. Aku jadi merasa tidak enak dan diliputi perasaan bersalah karena secara tidak langsung ikut menyeretmu pada persoalan yang kemarin kuperbuat. Tapi, tak apalah. Semua nanti kujelaskan. Sebelumya saya minta maaf. Dan terima kasih atas segala bantuanmu. Aku jadi membuatmu repot!"
"Tidak apa-apa. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai sahabat, sebagai orang yang telah kau anggap saudara. Lagi pula tidak perlu dijelaskan, tadi aku sudah bertemu dengan Dokter Halim. Ia telah menjelaskan segalanya. Beberapa orang suster magang yang juga merawatmu telah menceritakan peristiwa yang terjadi kemarin. Mereka memang nampak sedih dan trouma berhadapan dengan pasien."
"Dengan semua pasien?" Potongku sedikit penasaran.
"Mungkin. Atau mungkin juga cuma dengan kamu saja. Tapi saya pikir ini hanya kesalahpahaman. Tidak perlu dibahas, apa lagi dibesar-besarkan. Oh iya, apa betul sudah merasa baikan?" Tanya Andipa sembari melayangkan pandangannya pada botolan infus yang tergantung, pada obat-obatan yang berserakan di atas meja, lalu pada mata dan pangkal hidungku, seolah mencari sebuah kepastian dari ungkapan kejujuran tentang kondisi kesehatanku.
"Entahlah! Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan kondisiku. Yang aku pikirkan bagaimana aku bisa keluar secepatnya dari sini. Kamu sendiri kan tahu kalau Festival dan Seminar Internasional Lagaligo yang akan dihadiri oleh utusan dari dua belas negara itu tinggal tiga hari lagi, sementara tugasku banyak yang belum aku tuntaskan". Jawabku dengan tatapan menerawang.
"Kalau boleh saya sarankan, mundurlah saja dari kepanitiaan itu. Apalagi selaku Stage Manager. Saat sekarang ini kondisi kesehatanmu jauh lebih penting dan lebih berharga dari segalanya. Luangkanlah sedikit waktu untuk berbuat baik terhadap diri sendiri, demi kesehatan. Saya tahu jadi orang penting itu baik, tapi jadi orang baik menurutku jauh lebih penting".
Tatapanku yang menerawang semakin tertuju pada satu titik fokus yang teramat jauh. Kata terakhir diucapkan Andipa membuat jantungku berdebar. Di dalam hati sekali lagi aku mengulangi kata-kata itu: 'Jadi orang penting itu baik, tapi jadi orang baik itu jauh lebih penting!'. Perlahan aku menunduk dengan mata nyaris berkaca-kaca.
Sesaat aku terhenyak lalu menghela nafas panjang yang terasa begitu sesak.
"Oh, iya. Sudah minum obat?" Tanya Andipa basa-basi, seolah ingin membuyarkan semua pikiran berat di kepalaku. Aku diam tidak menjawab, seolah ingin membuktikan bahwa pertanyaan basa-basi itu tidak mampu menggoyahkan apa yang ada di kepalaku.
"Suster Tina, Hera, Mbak Tri, dan Nitha adalah mahasiswi kedokteran yang sedang tugas PKL dan berstatus magang. Hampir setiap hari mereka dinas di rumah sakit ini. Mereka semua, maksudku sebelumnya, tidak pernah berhadapan dengan situasi dan kondisi seperti ini. Pemahaman mereka tentang pasien yang beragam masih kurang dan masih sebatas tinjauan teoritis. Selebihnya mereka hanya memiliki semangat dan nyali yang besar untuk membantu sesama. Jadi, kepekaan mereka terhadap kondisi psikis pasien terkadang lupa mereka cermati. Yah... Mungkin semangatnya yang berkobar itu telah mengalahkan segalanya." Terang Andipa mengalihkan pembicaraan. Ia sepertinya sudah membaca apa yang ada dipikiranku. Aku pun jadi terpancing dan tertarik untuk merespon.
"Kok kamu bisa tahu banyak tentang mereka, apa mereka juga adalah bagian dari titipanmu untuk merawatku?" Tanyaku sedikit espekulasi namun penuh antusias.
"Ah, kamu bisa saja. Saya mengenal mereka baru dua minggu yang lalu ketika mereka mengadakan seminar program kerja bersama antar institusi di Gedung Bola Soba'e."
"Terus, yang tinggi putih dan berjilbab itu namanya siapa?" Tanyaku tidak sabaran.
"Agak gemuk?" Andipa balik bertanya.
"Bukan. Dia agak langsing jika enggan dikatakan kurus" Jelasku.
"Owhh, Itu namanya Tina. Dia dari Akademi Kesehatan Lingkungan. Dia yang menyuruhmu tidur dan istirahat dengan nada sedikit membentak. Karna saat masuk memeriksa sirkulasi udara kamar, ia melihatmu merokok dan puntungnya banyak berserakan di lantai, ia amat kesal. Kalau yang agak gemuk itu namanya Mba Tri, ia dari Akademi Kebidanan, dia yang mentensi darahmu. Yang agak kecil dan hitam manis itu namanya Hera, dia dari Akademi Keperawatan. Katanya, dia paling sering keluar masuk kamarmu mengantar obat dan memeriksa cairan infusmu. Sebenarnya dia juga sedikit kesal karena setiap kali masuk ia pasti menemukan banyak pembesukmu yang bermain gitar, kecapi, dan recorder, seperti sebuah grup orkestra yang tampil di gedung kesenian. Dan kalau di tegur mereka hanya tersenyum seolah melecehkan. Mereka tidak sadar kalau di kamar tetangga sebelah ada seorang pasien yang sedang berjuang di antara hidup dan mati karena penyakit Tetanus akut yang diderita
Sekali lagi, aku menghela nafas panjang yang begitu terasa semakin menyesakkan. Kembali aku terperangkap ke dalam perasaan bersalah yang mendera bhatin. Aku konsentrasi lalu mengatur pernapasan, mencoba menenangkan suasana jiwa yang semakin terhakimi oleh nuraniku sendiri. Tapi aku gagal. Kesedihan yang telah bercampur kegamangan telah menguasai diriku. Perlahan aku menggeser dan berusaha merebahkan tubuh untuk berbaring, dengan tanggap Andipa cepat membantu meluruskan punggungku.
"Boleh aku ditinggalkan sendirian?" Tanyaku pada Andipa dengan nada harap.
"Iyah, iyah. Istirahatlah!" Jawab Andipa sambil merapikan selimut yang hanya membungkus sebahagian tubuhku.
"Sebentar aku balik ke sini lagi. Aku akan urus dulu Administrasi Pengobatan dan pemeriksaannya. Kalau kau butuh sesuatu, miscol saja handphoneku biar aku yang menelponmu, Oke?!" Lanjutnya sembari menaikkan kedua alisnya dengan cepat. Aku mengangguk mengiyakan. Sesaat kemudian Andipa pun pergi dan berlalu dari pandanganku.
"Wouw...., Saatnya bereaksi!. Ternyata, dalam kondisi seperti ini aku masih saja bisa beracting dengan sempurna" Gumamku dalam hati. Aku mengekspresikan senyum kemerdekaan yang kupaksa bentuk di atas permukaan wajah pucat pasiku. Dengan berusaha menahan rasa sakit, aku bangkit dan duduk bersandar pada dinding tembok di samping difanku. Aku tidak tahu, apakah ini benar-benar sebuah Acting atau bukan. Atau hanya sekedar upayaku saja untuk menghibur diri...? Yah, Entahlah! Yang jelas aku harus segera menulis surat untuk suster-suster itu, Titik!.
Aku merasa lega saat cerita ini usai kutulis dalam bentuk surat. Aku lalu menyimpannya di bawah kasur, tepat di samping obat-obatan yang berserakan yang sengaja kusembunyi. Alasannya sederhana, biar dianggap rajin minum obat. Sesaat aku pun larut membayangkan satu persatu wajah-wajah suster itu membaca cerita yang tertuang dalam surat ini.
Apalagi di'.......?
Sebenarnya, aku tetap berharap cerita ini dapat aku teruskan sebelum segala mimpi buruk itu jadi kenyataan. Aku memang nyaris tidak bisa lagi berharap banyak akan tejadi mimpi-mimpi indah dalam sejarah pengembaraan panjang perjalanan hidupku. Bukannya aku putus asa, tapi kenyataan hiduplah yang terlanjur mengantarku hingga tepat di gerbang keputusasaan yang dalam dan curam. Mungkin hanya ini yang dapat aku tuliskan pada penantian episode ini.
Thanks So Much!
Si Pasien Bandel,
Dian
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar