Minggu, 06 Oktober 2013

Antologi Cerpen : “Semburat Luka La Galigo” Mr. Dian Al-Pomala’a

1. PROPOSAL KOLOSAL PERBINCANGAN lepas itu terjadi saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat lima belas menit waktu Indonesia Bagian Timur. Waktu Indonesia bagian Kabupaten Barru. Itu berarti, 15 menit sudah waktu berlalu untuk menjadikan perbincangan itu lebih formal sebagaimana direncanakan. Ibu Doktor Nurhayati Emhum selaku Ketua Panitia Pusat kegiatan Festival dan Seminar Internasional “La Galigo” yang tiba dari Makassar lima belas menit lalu semakin tidak bisa lagi menyembunyikan ekspresi kecemasan dan kegelisahannya. Rambutnya sebatas bahu dibiarkan terurai ke bawah menutupi wajahnya yang pucat pasi saat melirik jam tangannya. Dalam waktu yang hampir bersamaan saat kembali mengangkat wajahnya, terdengar langkah kaki Bapak Ketua Panitia Lokal memasuki ruangan. Ibu Nurhayati dengan tidak sabaran langsung menanyakan keberadaan bapak Bupati yang telah lama dinanti. “Bapak Bupati kemana, mengapa beliau belum juga datang? Saya sudah punya janji untuk bertemu disini tepat jam 10. Seharusnya ia konfirmasikan kembali jika pertemuan ini tidak jadi. Saya suda capek-capek datang dari Makassar. Waktu saya sudah banyak terbuang!”. Ketus Ibu Nurhayati. Bapak Drs. H. A. Anwar Aksa selaku Ketua Panitia Lokal tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Barulah ia menjawab saat punggungnya merapat pada sandaran kursi tamu di lantai 2 gedung kantor bupati itu. Sebuah gedung mewah yang megah, symbol kebanggaan sekaligus keangkuhan. “Beliau saat ini menghadiri pertemuan. Hand phonenya di non aktifkan hingga sulit dihubungi”. Pak Anwar menjelaskan sambil sesekali menyeka peluh yang menetes di dahi dan pelipisnya. “Bagaimana kalau nanti saja, setelah usai sholat jum’at?” Pak Anwar mencoba menawarkan. “Dimana?” tanya ibu Nurhayati “Di rumah jabatan!” “Di rumah jabatan?” “Ya, di rumah jabatan. Ba’da jum’at”. Tandas pak Anwar. Tempat yang baru saja ditawarkan pak Anwar seakan mengunci pertemuan. Sesaat suasana jadi sunyi. Ibu Nurhayati sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ia nampak diam dengan jidat sedikit berkerut. Badaruddin Amir dan Nurrasyid yang hadir dalam perbincangan lepas itu saling berpandangan dengan model mulut nyaris bersamaan membentuk huruf “O”. Keduanya seakan tidak bisa menerima tawaran itu sebelum ada kepastian proposal pertunjukan Drama Matahari Pancana yang akan diajukan untuk di ACC. “Oh, iya bu. Bagaimana dengan proposal pertunjukan paket kesenian kami?’ tanya Badaruddin Amir membongkar kesunyian sembari menyodorkan proposal. “Oh, iya. Coba lihat”. Ibu Nurhayati menerima proposal yang disodorkan oleh Badaruddin Amir, lalu kemudian menandatanganinya. Selesai menandatangani ibu Nurhayati lalu menyerahkan kepada pak Anwar untuk ditandatanganinya pula. Namun belum lagi proposal itu tersentuh, pak Anwar sudah menolak. Ia seakan nampak gugup. “E... maaf!. Saya tidak bisa menandatanganinya jika bapak Bupati tidak ada.” Kata pak Anwar. “Ini sudah diketahui bapak Bupati sebab kami langsung direkomindir oleh ketua panitia pusat. Dalam hal ini ibu Nurhayati. Dan saya kira ibu Nurhayati juga sudah mengkonfirmasikan langsung kepada beliau. Jadi tinggal diperhadapkan saja pada bapak untuk ditanda tangani”. Jawab pak Badaruddin dengan nada meyakinkan. “E....maaf. Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak berani.” Ucap pak Anwar seraya mengangkat kedua telapak tangannya. Nurrasyid yang hanya diam sembari menjadi pendengar setia perbincangan itu mulai kesal dan sedikit jengkel. Dengan gaya protes, ia berdiri kemudian berlalu meninggalkan ruangan. * * * Demikianlah Nurrasyid yang akrab kami panggil K’Dian. Beliau tak punya sifat yang pelik. Hanya saja sikap dan tindakannya terkadang cepat berubah. Mungkin karena pengaruh zodiaknya yang berada pada naungan Gemini. Jiwanya agak sensitif namun ramah, murah senyum, humoris, mudah simpati pada wanita cantik, suka membantu dan menolong orang lain, pemaaf dan tidak suka dendam, juga senang pada suasana dan perubahan-perubahan baru. Merayu...? Itulah satu-satu hobbinya yang masih berada pada puncak papan paling atas meski ia sering gagal jika rayuannya itu ditujukan pada mahluk bernama wanita. Entah mengapa, padahal ia sendiri sering menyadari keberadaannya yang sudah terlalu tua untuk mendekap sepi. Celakanya, acap kali ia mencoba seketika itu pun gagal. Tapi sudahlah. Baginya itu kini tak jadi soal. Aku juga malas memikirkannya, entah mengapa. Saya harap anda tidak mengatakannya pada siapa pun juga tentang hal ini. Dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya, dia itu orangnya cepplas-cepplos tapi polos. Any where any time. Kapan dan dimana saja. Pokoknya, cepplas-cepplosnya dahsyat abizzz!. Namun disaat ia berlalu meninggalkan ruangan itu yang kemudian disusul oleh pimpronya, Badarauddin amir yang pantang menyerah, semua tiba-tiba berubah. Semua sifat-sifat itu seakan terlepas dan tidak lagi melekat pada dirinya. Mulutnya yang cepplas cepplos penuh kepolosan kini bungkam tertutup rapat. Kejengkelan yang telah bercokol di kepalanya bertaut diantara senyum sinisnya. Darahnya yang mendidih hingga ke ubun-ubun turut menyertai langkah kakinya saat menuruni anak tangga gedung itu satu persatu. Perlahan pupil matanya mulai mengecil. Pandangannya nanap menatap kosong pada sebuah titik yang teramat jauh. Goresan-goresan warna kulit wajahnya yang sawo dipaksa matang semakin terlihat jelas memperkuat karakter kemarahannya. Tiba-tiba ia mendengus kencang menghempaskan nafas. Gigi gerahamnya merapat tegang. Ia mulai nampak garang. Dan ..... “Buuukh!” Tinjunya melayang menghantam tembok, suaranya nyaris bersamaan dengan pekiknya yang lantang : “Taik Kucciiing...!!!”. “Buuukh!” Sekali lagi tinjunya melayang. Kali ini tinjunya menghantam tiang beton yang berada di samping anak-anak tangga saat tubuhnya akan hilang ditelan tikungan anak tangga terakhir. Pimpronya, Badaruddin Amir yang pantang menyerah, terkejut. Ia menghentikan langkah. “Kau kenapa? Ada apa? Tanyanya. “Aku muak dengan birokrasi macam ini. Segalanya harus bapak Bupati. Jika pak Bupati tidak ada, tidak ada yang jadi. Ini..., Ini gaya kepemimpinan macam apa? Pak Anwar selaku Ketua Panitia Lokal kapasitasnya seperti apa? Tugas dan tanggung jawabnya bagaimana? Ruang lingkup dan batasan kebijakannya dimana? Dasar bodoh! Semua hanya menggunakan manajemen kaku. Bego dipelihara. Primordialisme diternak. Dasarrr, Jerangkong feodalis!!!”. Ungkapan kemarahan K’Dian tak tertahankan, urat lehernya tegang. “Kamu ini lagi marah apa kerasukan iblis betina?”. Tanya Pimpronya. “Terserah mau dibilang apa!” “Lantas, apa hubungan kemarahanmu dengan tonjokan pada tembok?” “Anggap saja yang kutonjok birokrat mereka. Kebodohan mereka. Kalau perlu kepala mereka. Mereka memang keras kepala. Mereka bukan lagi kepala batu, tapi kepala besi! Dasar keparat! Mampus saja sekalian!”. Pimpronya, Badaruddin Amir yang pantang menyerah, yang tadi terkejut jadi merasa geli mendengar cerocoh K’Dian. Apalagi disaat melihat raut wajahnya yang sudah merah agak kecoklat-coklatan persis kepiting rebus, tawanya tak dapat lagi ditahankan dan ia pun tertawa terpingkal-pingkal. Ada tiga sampai empat kali tarikan nafas barulah tawa itu meredah. Disela tawanya yang hampir meredah, Pimpronya, Badaruddin Amir yang pantang menyerah, mendekati sembari menepuk pundaknya. “Sudahlah, kau jangan terlalu emosional begitu. Lagi pula, mengapa sikap emosionalmu tidak kau lampiaskan saat perbincangan lepas tadi? Tapi sudahlah, saya pikir kita masih punya banyak cara menggolkan proposal kita”. Pimpronya, Badaruddin Amir yang pantang menyerah, mencoba menentramkan jiwa K’Dian yang masih kalut. Ia memberikan proposal yang enggan ditanda tangani oleh Pak Anwar. Dalam tubuh birokrat, seorang terkadang bertindak seperti robot yang remotnya dikendalikan oleh atasan. Seperti itulah type kepemimpinan Pak Anwar di mata K’Dian. Sembari berjalan, K’Dian terus saja bercerocoh dengan gerakan tangan kanan yang naik turun, jari-jarinya melebar renggang dan tegang. Langkahnya terus terseret lunglai pergi meninggalkan gedung bersama pimpronya. Badaruddin amir yang pantang menyerah. Ketika hampir tiba di Panti Asuhan tempat tinggalnya, dikejauhan nampak anak-anak pantinya dengan tubuh kurus dekil menyambutnya dengan senyum dan tatapan berbinar menyimpan harapan. Terlintas di kepala K’Dian proposal bantuan dana konsumsi untuk anak-anak pantinya yang juga telah diajukan tiga hari lalu. Dan dengan jelas sekali tergambar dalam bayangan imajinasinya, proposal panti asuhan itu berada di bawah tumpukan proposal-proposal kolosal kegiatan Festival dan Seminar Internasional La Galigo yang belum tersentuh bapak Bupati. Dengan wajah lesu K’Dian menunduk, beberapa butir air matanya jatuh menetes membasahi permukaan proposalnya. Barru, 10 Maret 2002 1. PROPOSAL colossal Loose conversation that happens when the time is shown at 10 through fifteen minutes of Eastern Indonesia. Indonesia part time Barru. That means, 15 minutes was the time elapsed to make it more formal talks as planned. Doctoral mother Nurhayati Emhum activities as Chairman of the Central Committee of the Festival and the International Seminar "La Galigo" who arrived from Makassar fifteen minutes ago increasingly can no longer hide the expression of anxiety and agitation. Her hair was allowed to decompose to the extent of the shoulder down over his face was deathly pale as he glanced at his watch. In almost the same time re-looked, there were footsteps Mr. Chairman Local Organizing Committee entered the room. Nurhayati mother impatient with the presence of the father immediately asked that Regents have long awaited. "Regent where, why did he not come? I've got an appointment right here at 10. He should confirm back if the meeting is not so. I am tired suda came from Makassar. I have a lot of wasted time! ". Mom snapped Nurhayati. Drs. H. A. Aksa Anwar as Chairman of the Local Organizing Committee did not directly answer the question. It was only when he answered his back pressed against the seat guests on the 2nd floor of the regent's office building. A magnificent palace, symbol of pride and arrogance. "He is currently attending the meeting. Hand phonenya deactivated it was difficult to be reached ". Mr. Anwar said while occasionally wiping the sweat that dripped on the forehead and temples. "What if later, upon completion of Friday prayers?" Mr. Anwar tried to offer. "Where," asked the mother Nurhayati "In the home office!" "In the home office?" "Yes, at the home office. Ba'da Friday ". Mr. Anwar said. Place the newly offered Mr. Anwar seemed to lock the meeting. There was a moment so quiet. Nurhayati mother seemed to be thinking about something. He seems quiet with little forehead wrinkled. Badaruddin Amir and Nurrasyid who attended the talks off the mouth of the model at each other with almost the same form letter "O". Both seemed unable to accept the offer before the proposal is no certainty that Pancana Sun drama performances will be submitted to the ACC. "Oh, yes ma'am. What about the proposal package show our art? "Said Amir dismantle Badaruddin silence while thrusting the proposal. "Oh, yes. Take a look ". Nurhayati mother received a proposal offered by Badaruddin Amir, and then sign it. Finish signing Nurhayati mother then handed to Mr. Anwar for signing anyway. But the proposal was not yet touched, Mr. Anwar has already rejected. He seemed to look nervous. "E. .. sorry!. I can not sign it if the father of Regents does not exist. Said Mr. Anwar.” "It is already known because the father of Regents direkomindir us directly by the central committee chairman. In this case the mother Nurhayati. And I think the mother Nurhayati also been confirmed directly to him. So stay in perhadapkan only on the father for the sign ". Answer Badaruddin pack with convincing tone. "E. ... sorry. Again, I apologize. I do not dare. "Said Mr. Anwar, raising his hands. Nurrasyid are just quiet conversation while a loyal listener was getting annoyed and a little annoyed. With the style of protest, he stood and left the room. * * * Thus we call a familiar Nurrasyid K'Dian. He did not have a complicated nature. It's just the attitude and actions, sometimes rapidly changing. Perhaps because of the influence which is in shade zodiac Gemini. His soul is rather sensitive but friendly, smiling, humorous, easy sympathy for a beautiful woman, likes to help and helping others, forgiving and do not like revenge, is also delighted at the atmosphere and the new changes. Woo ...? That's the one hobbinya who are still at the height of the top board even though he often fails if rayuannya was aimed at the creature called woman. Somehow, even though he himself was often aware of its existence is already too old to embrace quiet. Unfortunately, often times he tried once too failed. But never mind. To him it does not matter now. I'm too lazy to think about it, somehow. I hope you did not tell anyone about this. And one more not less important, he was one cepplas-cepplos but plain. Any where any time. Anytime and anywhere. Anyway, great cepplosnya cepplas-abizzz!. But when he passed from the room which was then followed by pimpronya, Badarauddin amir who never gave up, all of a sudden changed. All those traits seemed to come loose and no longer attached to him. His mouth is full of innocence cepplas cepplos silent now closed. Aggravation that has been entrenched in the head linking between cynical smile. His blood is boiling down to the fontanel also accompany his steps down the stairs when the building one by one. Slowly her pupils began to shrink. NANAP gaze blankly at a distant speck. Scratches his face dark brown skin color forced to mature more and more apparent to strengthen the character of his anger. Suddenly he threw loud snorts of breath. Molar teeth docked tense. He began to look fierce. And.... "Buuukh!" Flying fist hit the wall, his voice almost simultaneously with that he cried aloud: "Taik Kucciiing ...!!!". "Buuukh!" Again his fists flying. This time his fist hit the concrete pillar that is next to the stairs when his body will be lost to bend the ladder. Pimpronya, Badaruddin Amir who never gave up, startled. He stopped walking. "What happened to you? What is it? He asked. "I'm fed up with this kind of bureaucracy. Everything must be the father of Regents. If a pack of Regents does not exist, nothing is finished. This is ..., It's what kind of leadership style? Mr. Anwar as Chairman of the Local Organizing Committee as to what capacity? Duties and responsibilities how? The scope and limits of discretion where? Idiot! All uses only rigid management. Stupid maintained. Primordialism bred. Dasarrr, Jerangkong feudalistic !!!". K'Dian unbearable anger expression, strained his neck veins. "What are you more angry with a female demon possessed?". Tanya Pimpronya. "Want to say what's up!" "So, what is the relationship with a punch in the wall of your anger?" "Let's just say that kutonjok their bureaucrats. Their ignorance. If I need their heads. They are stubborn. They are no longer the head stone, but metal heads! Bastard! You die just as well! ". Pimpronya, Badaruddin Amir who never gave up, who was surprised to be amused to hear cerocoh K'Dian. Especially in times saw the look on his face was red just a little brown crab boil, laughter can no longer be born and he was laughing so hard. There are three to four times a breath before it died meredah. Was interrupted by laughter that almost meredah, Pimpronya, Badaruddin Amir who never gave up, patted his shoulder as he approached. "Come on, you do not get too emotional so. After all, why do not you vent your emotional attitude during the conversation off again? But never mind, I think we still have plenty of ways to pass our proposals ". Pimpronya, Badaruddin Amir who never gave up, tried to pacify the soul K'Dian still frantic. He gave a reluctant proposal was signed by Mr. Anwar. In the body of bureaucrats, sometimes acting like a robot remotnya controlled by superiors. That's the type of leadership Mr. Anwar in the eyes K'Dian. As he walked, kept K'Dian bercerocoh with right-hand movement up and down, fingers spread tenuous and tense. The steps continue to be dragged limply left the building with pimpronya. Badaruddin amir who never gave up. When almost at the orphanage where he lived, seemed distant pantinya children with dirty skinny body greeted with smiles and sparkling eyes keep hope. Springs to mind K'Dian proposal to help fund children's consumption pantinya who also has filed three days ago. And very clearly illustrated in the shadow of his imagination, the proposal was in an orphanage under a pile of proposals colossal Festival activities and the International Seminar La Galigo untouched father of Regents. With sluggish K'Dian face down, a few grains of tears dripping down the surface of the proposals. Barru, March 10, 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar