Senin malam di penghujung bulan September, tepatnya 30 September 2013. Sejenak Gerakan 30 S PKI melintas di benak lalu hilang bersama suara perut keroncongan menyapa. Malam itu kami barusan saja tiba di air port internasional soekarno hatta perjalanan dari tanah minang kota padang sumatra barat. Di sana kami baru saja usai menyelesaikan hajatan besar organisasi kami sebagai organisasi pencetak generasi mumpuni. KONPIWIL IPM ke XIX, itulah nama hajatan besar kami. Sebuah pertemuan antar Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah se Indonesia (baca : pertemuan aktivis pelajar Muhammdiyah se Indonesia), untuk mengevaluasi arah gerakan organisasi dan dinamika pelajar demi kejayaan bangsa dan agama.
Perjalanan yang cukup melehkan itu membuat kami harus mencari tempat istirahat sekaligus mencari pengisi kampong tengah, tentunya tempat yang sederhana sesuai dengan isi kantong ala Pelajar. Bukan tempat yang mewah ala sebahagian pejabat yang menurut aturan mereka buat dan sepakati sendiri 5,2 juta sekali study banding sudah menjadi kewajiban bagi setiap anggota dewan kita yang terhormat - (baca ; di Koran harian Fajar edisi 3 oktober 2013 hal. 24 “Mengeruk Uang Negara Dari Perjalanan Dinas“). Yang membuat kami terkadang mengumpat sembari mendendangkan kidung sumpah serapah, “Durhaka Tujuh Turunan”. Dari dalam hati, suara seolah tak henti menjerit melihat realitas tanah air.
Malam itu kami mencari tempat makan yang sesederhana mungkin sekali lagi yang bisa terjangkau oleh kantong pelajar. Setiap memasuki warung di bandara kami Harus bertanya dulu berapa harganya?? Kalau tidak cocok harganya kami pindah, tidak cocok harganya yah... pindah lagi. Soal cocok tidaknya dengan makanannya itu soal kedua.
Akhirnya kami menemukan warung yang menurut kami itu sudah pas dengan uang yang kami kantongi. Mie bakso 30 ribu. Masih lebih mending ketimbang warung lainnya. Setelah menghitung-hitung uang dan seterusnya, menimbang-nimbang untung rugi dan seterusnya, kayaknya inilah yang paling murah. Akhirnya kami memutuskan lalu menetapkan untuk segera melepaskan lapar dan lelah di warung itu. Maaf jika konsideran keputusan KONPIWIL masih mewarnai pengambilan keputusan tindakan kami.
Sembari menunggu pesanan, kami Bercanda tawa menghibur diri agar terlupakan lelah dan harga mie baksonya. Setelah lama Menunggu saya kemudian melihat sosok yang tak asing lagi bagiku di sudut warung itu. Alhamdulillah ucapku dalam hati, kayaknya yang di sana itu adalah orang nomor satu di Daerah saya. Ya, itu bapak Bupati Barru Sulawesi Selatan H. Idris Syukur, gumamku dalam hati.
Tetapi saya masih bertanya Tanya apa iya?? Bupati kok di tempat sesederhana ini yah...?? Dan tak ada juga kelihatan pengawal pribadi yang berbadan kekar ala kebanyakan orang terkenal di Negeri ini?? Kali ini saya harus memberanikan diri untuk mendekati dan menyapa langsung.
Assalamu Alaikum Puang sambil menjulurkan tangan untuk salaman, Wa’alaikummussalam MagaiTuNdi’ (sapaan keakraban dalam tradisi bugis) ??. Saya lalu memperkenalkan diri saya, Elly Oschar Puang. Saya dari Barru. Ow...dari mana?? Kenapa ada di sini? Saya dari padang sumatera barat ada pertemuan Pelajar Muhammadiyah se Indonesia di sana, Alhamdulillah kami enam orang, sambil menunjuk teman temanku, mewakili Sulawesi Selatan. Apa namanya?? KONPIWIL IPM, Puang. Acara apa itu?? Konfrensi Pimpinan Wilayah IPM Se Indonesia. Ow... Ikatan Pelajar Muhammadiyah dich?? Iye Puang. Saya itu pernah ketemu dengan ketua muhammadiyah Sulawesi Selatan di acara milad Muhammadiyah di Barru. Saya sudah banyak membantu sekolah-sekolah Muhammadiyah di Barru. Seperti sekolah muhammadiyah di Takkalasi dan Padaelo. Di manaki tinggal di barrundi’?? Di padaelo Puang. Siapa namanya bapakmu?? Sayyed Ruslan Abdullah Puang. Yang ketua PKS Barru itu?? Iye Puang. Sekaligus calon legislatif di Dapil 3, mohon doa restu dan dukungan’ta puang. Beliau itu bapak angkat saya, saya lahir di sinjai tetapi diambil oleh Pak Ruslan dan di sekolahkan di Barru, beliau juga yang membiayai saya sampai selesai kuliah puang. Kuliah di manaki dulundi?? Saya dulu kuliah di Unismuh Puang, kebetulan juga sempat diberi amanah menjabat Presiden Mahasiswa di sana. Ow...jadi pasti kamumi itu yang biasa demo dich?? Sambil memukul pundakku sebagai tanda keakraban. Saya tidak biasa demo puang tapi sering sambil tertawa. Hehehe... tapi itu dulu puang tidak mi sekarang, sekarang tinggal mengontrol pergerakan ade-ade saja, puang. Jangan maki demo Demo lagi berhenti makindi’, karena nanti saya lapor itu sama paung Djalil?? Puang Djalil itu om saya. Owh..Iye’ tidak ji itu puang, saya melapor ji itu kalau mau demo di barru. Iya, janganmi demo2 bela, bantu bantu saja barru. Kita itundi’ harus kembali mengabdi di barru karena dari barruki juga. Iye’ puang. Insya Allah.
Waktu saya ke acara milad muhammadiyah di barru, orang nomor satu di daerah kami ini melanjutkan kisahnya, Waktu itu saya ketemu dengan ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan DR. KH. Alwiuddin. M. Ag, jadi saya dulu yang beri sambutan baru beliau dan beliau menantang saya agar saya membaca khutbah. Dan saya iyakan Insya Allah Ustadz saya akan belajar Insya Allah saya akan usahakan. Dan Alhamdulillah saya sering baca khutbah jumat sejak bulan januari tahun lalu. Itu semua karena motivasi dari Anre Gurutta Ketua Muhammadiyah karena beliau menantang saya untuk baca khutbah dan saya tertantang dengan hal itu. Tolong sampaikan salam dan ucapan terima kasihku kebeliau kalau nanti tiba di Makassar. Iye’ Puang Insya Allah saya akan sampaikan nanti kalau rapat bersama. Setelah lama berbincang banyak hal tentang barru dan prestasinya serta harapan-harapannya. Ia memberi isyarat keasisten pribadinya untuk membayar makanan yang kami pesan.
Alhamdulillah berkurang lagi beban kami gumamku. Dan Beliau memberikan nomor kontaknya kepadaku dan berpesan kontak-kontak kalau ada masalah sambil pamitan mendahului kami. Terima kasih banyak puan salamaki.
Tak lama kemudian, terdengar pengumuman kalau penumpang pesawat lion air dengan tujuan Makassar sudah dipersilahkan naik ke pesawat melalui gate 2. Kami lalu bergegas menuju gate 2 dengan hati gembira, sudah banyak berbincang dengan bapak Bupati ditraktir pula. Ketika memasuki pesawat lion air saya terkejut melihat Bapak Bupati juga ternyata naik pesawat lion air dan lebih herannya lagi karena beliau berada di class economi bukan di class bisnis. Ini bupati yang sederhana dan bersahaja, gumamku sembari berbangga hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar